silakhudin

Akibat Ketidakhadirannya…!

Pak Broto sudah tidak cocok melihat tingkah Aldi yang semakin tidak sopan kepada bapaknya. Berangkat sekolah pun dia sudah tidak lagi menyapa kepada ibu dan bapaknya, langsung nylonong saja. Penampilannya sudah jauh berbeda dengan Aldi yang dulu. Rambutnya dimodel seperti remaja pada umumnya, berdiri, bajunya tidak dimasukkan dan dari beberapa jarinya terlihat kuku panjang bercat hitam.

\”Tuh, anakmu…!”

\”Itu,kananak Bapak juga…!”

Suasana sarapan pagi yang seharusnya dirasakan harmonis dan penuh kasih sayang, berubah menjadi percikan api yang membahayakan di meja makan¸ hampir saja percikan api itu membakar amarahnya. Amarah mereka berdua.

\”Sudah, Bapak pergi dulu! Bapak lagi banyak urusan!”

\”Hati-hati!” serta doa istrinya dengan berat hati, terpaksa.

Ana merasa berat untuk beranjak dari tempat duduknya, merasa enggan mengangkat badanya dari kursi meja makan hanya sekedar untuk mengantarkannya sampai ke depan pintu. Tidak seperti biasanya. Mendoakan saja terpaksa.

Dulu, setiap kali pak Broto mau pergi menjalankan bisnisnya, Ana selalu mengantarkannya sampai di depan pintu setelah meluruskan dasi suaminya. Mengucapkan salam sayang dan mencium keningnya, \”Hati-hati ya Pa…” doanya selalu menyertai suaminya penuh kekhawatiran kalau sampai  terjadi sesuatu pada suaminya. Tapi itu dulu. Sekarang semua sudah berubah, keadaannya telah berubah dan zaman juga telah mengubah segalanya. Kesibukan telah mengubah segalanya, apalagi setelah Aldi naik kelas dua SMA. Bersamaan dengan kenaikan kelas Aldi, bisnis pak Broto pun naik drastis. Jarang di rumah, tidak pernah berkumpul dengan anak dan istrinya, sudah tidak punya waktu untuk berkumpul walau hanya sekedar menanyakan kabar dan menghadirkan perasaannya kepada Aldi, yang sebenarnya membutuhkan dukungan moral dan kehadiran emosi dari keduanya untuk  mencapai prestasi.

Kalaupun di rumah, paling hanya sekedar istirahat, itu pun sibuk dengan ponselnya yang selalu berdering, ditelepon teman bisnisnya. Seakan-akan dia lupa pada istri dan anaknya. Tidak pernah lagi menanyakan kabar istri, apalagi anaknya.

Pak Broto tidak menyadari kalau selama itu pula, istrinya sering cemburu dengan pekerjaan suaminya, kadang-kadang marah tanpa alasan, ketika melihat suaminya yang sekarang tidak pernah perhatian lagi. Jangankan tidur bareng, makan bareng saja sudah tidak terasa, bahkan meja makan pun mungkin bosan mendengar celotehan-celotehan tidak sehat yang disertai dengan sorotan mata egois dan tekukan-tekukan kulit kening yang menyebalkan. Semakin menambah beban. Itulah yang dirasakan oleh Bu Ana ketika berada di meja makan.

Padahal saat itu juga, Aldi berada bersama mereka berdua. Dia juga merasakan kalau diantara mereka berdua lagi terjadi perang dingin. Hatinya terasa tidak nyaman kalau dilihat dari caranya memegang sendok dan mata malasnya. Pikirannya kacau. Perasaannya tidak menentu. Mulai tidak betah berada dekat dengan mereka berdua. Seperti tinggal dengan orang asing, orang yang belum pernah dia kenal sebelumnya.

… … …

\”Aldi, Kamu dari mana saja?”

\”Jam segini baru pulang? Bilang-bilang dong… kalau mau main, jadi Ibu tidak khawatir!”. Sapanya mengintrogasi ketika pulang tidak seperti biasanya, melihat Aldi bertingkah tidak seperti biasa, selalu pulang cepat, tidak mampir ke rumah siapapun sepulangnya dari sekolah. Kalaupun ada les, setidaknya ada sms yang masuk ke ponsel ibunya meminta izin.

\”Dari rumah teman, Bu…!” jawabnya malas sambil berlalu, menampakkan muka kecut, lusuh dan kusut. Sorotan matanya lemah tak bercahaya, mengisyaratkan ada sesuatu yang tersembunyi. Di ujung keningnya banjir dengan keringat. Begitu juga dengan ujung hidungnya. Rambutnya kusut, merah asli tersemir sinar matahari, khas penggembala.

Aldi terdiam sejenak setelah beberapa menit berlalu, kemudian langsung berjalan membelakangi ibunya menuju kamar yang posisinya berada di belakang. Dengan langkah terengah-engah, lemas, lunglai.  Langkah yang tidak pasti. Menundukkan kepala dan tangannya yang menggantung tak bertenaga, kelihatan tidak semangat dan kelihatan sedang ada masalah. Tapi peduli apa keduaorang tuanya yang akhir-akhir ini tengah mengacuhkannya.

\”Jangan-jangan sedang ada masalah dengan temannya, sekolah atau gurunya?” gumamnya menebak tingkah Aldi.

Seratus persen tebakannya tidak meleset.

Sejak dia mulai terasa tidak diperhatikan lagi oleh kedua orang tuanya, spontan berubah. Menjadi pendiam. Tidak aktif dan kreatif seperti sebelumnya. Merasa tidak bebas bergerak walaupun di rumah sendiri. Lebih suka hidup di luar dari pada di rumah sendiri. Ibunya yang masih agak peduli dengan keadaannya sekarang sering merasakan kesepian. Hanya ditemani oleh Titin, pembantunya.

Bukan hanya pendiam, dia juga sering meminta uang dengan jumlah yang cukup besar untuk tingkat usianya, yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan. Tidak menjawab kalau ditanya uang itu untuk apa. Yang keluar dari mulut Aldi hanyalah ucapan-ucapan yang dikeluarkan melalui otot leher dan kening. Bukan atas dasar pikiran yang sehat.

… … …

\”Mah, Minta duitnya dong…!” pintanya dengan nada asing di telinga Ibu.

\”Memangnya duit yang kemarin sudah habis?”

\”Buat apa sih? Kok akhir-akhir ini Kamu sering minta duit? jangan-jangan uang tabunganmu juga habis!”

\”Ayo, dong Ma!, sudah telat nih!” paksa Aldi

Kali ini Aldi minta dengan agak sopan, tidak terlalu memaksa seperti biasanya. Ana pun tidak bisa menolak permintaan Aldi dan langsung memasukkan tangan kanannya ke saku daster warna putih kembang-kembang kecil yang sedang dipakainya, kemudian mengeluarkan kertas merah bertuliskan nominal seratus ribu rupiah, yang semula akan dipakai untuk belanja, membeli sayur untuk makan siang.

Semua kemauan Aldi dituruti, termasuk seratus ribu yang baru saja diberikan kepadanya. Pak Broto pun tidak pernah melarang istrinya untuk tidak terlalu gampang memberikan uang kepada Aldi, apalagi setiap hari dan jumlahnya pun menurutnya cukup wajar untuk anak sekarang.

\”Saya berangkat, ya Bu…!”

\”Iya. Hati-hati, langsung pulang, ya?” serta bu Ana

\”Tumben, baru akhir-akhir ini saya lihat Aldi ramah setelah beberapa hari cemberut dan marah, memaksa bila tidak dituruti” Gumamnya.

\”Ma, saya pergi dulu!” sapa suaminya sambil mencium kening bu Ana setelah mengangkat koper hitamnya lantas langsung pergi. Tapi Ana tidak terasa getaran apapun. Tidak  semanis dulu. Terasa hampa. Mungkin terkalahkan dengan rasa kesal yang sampai sekarang masih menginap dan bercokol di dadanya.

Ana harus kembali merasakan kesepian lagi. Beginilah kehidupannya setiap hari. Tidak pernah merasakan adanya hiburan seperti dulu. Menunggu Aldi datang dan suaminya pulang adalah hiburan baginya. tapi dulu. Sekarang apa yang mau ditunggu, kalau sudah datang saja rasanya tidak rindu.

\”Selamat pagi, Bu” sapa orang tidak dikenal, tapi kelihatannya tukang pos.

Bukan tukang sayur yang datang, tapi pak pos yang baru kali ini mampir ke rumahnya.

\”Apa benar ini rumah Aldi? Anda ibunya?” tanya tukang pos sopan mengira-ngira.

\”Ya, betul!” keningnya berkerut bertanya-tanya, matanya kosong menyiratkan kebimbangan.

\”Adasuratuntuk Ibu” sambil mengulurkansuratyang terbungkus amplop coklat berkop, nama sekolah Aldi, untuknya.

\”Suratdari siapa, ya?” gumamnya bertanya-tanya heran.

\”Trimakasih ya, Pak!”.

Dibukanya pelan-pelan amplop yang baru saja diterima agar tidak rusak. Barangkali salah alamat. Walaupun sudah jelas-jelas dialamatkan kepada rumah orang tua Aldi.

\”Kepada Yth. Broto Hadi Kusuma”

\”Kami memberitahukan bahwa Aldi sudah tujuh hari berturut-turut tidak masuk sekolah tanpa keterangan” dibacanya inti isisurat tersebut yang ditandatangani dengan tinta tebal oleh kepala sekolah dan dibubuhi stempel resmi bertinta biru.

Dalam hati bertanya bingung. Tidak percaya kalau anaknya tidak masuk sekolah. Apalagi sampai tujuh hari berturut-turut. Ana tidak percaya dengan kabar dari isisuratini. Setiap hari dia melihat _dengan mata kepalanya sendiri_ berseragam sekolah minta uang saku dan berangkat ke sekolah.

\”Kenapa bisa begini…??” gumamnya menggerutu heran seolah tidak percaya. Yang dia tahu, Aldi adalah anak yang rajin, cerdas dan kreatif.

Sebenarnya benar yang sangkaan Ana. Dia rajin, cerdas dan kreatif, tapi dulu. Buktinya sekarang sudah tujuh hari dia tidak masuk sekolah, apalagi tanpa keterangan. Sementara ibunya tidak tahu kenapa dia tidak masuk, ke mana dan apa yang dilakukan oleh anaknya di luar. Sedangkan ayahnya, apa yang bisa diharapkan dari seorang ayah yang selalu sibuk dengan bisnisnya.

\”Ya Allah, kenapa jadi begini!” rasa bimbang menyelimuti pikiran Ana.

\”Pak!, Aldi ko sudah tujuh hari tidak masuk sekolah, yah?” tanyanya, dengan nada lemah, lewat telepon kepada suaminya yang sekarang sedang sibuk di Kantor.

\”Ada kabar dari mana? Jangan percaya dulu dong Ma!” jawabnya. Seolah menganggap tidak terlalu penting.

\”Ya sudah, nanti, kalau saya pulang!” tambahnya lantas langsung menutup telponnya.

Telepon berbunyi lagi tidak lama setelah Ana menutup laporannya kepada pak Broto, suaminya.

\”Ya, Hallo..!” sapa Ana

\”Benar ini rumah Pak Broto?

\”Ya, betul, dari siapa yah…?”

\”Kami dari kantor polisi…”

Seketika Ana kaget.

\”Adaapa dengan suami saya, Pak!” tanyanya menggeretak.

\”Berdasarkan pemeriksaan, Aldi terbukti pemakai narkoba! Dan sekarang dia masih beradadi Rumah Sakit Dr.Pardiansyah, untuk diperiksa ulang!”.

Belum juga perasaannya reda karena bingung dan hampir tidak percaya dengan kabar yang ada padasuratyang baru saja diterimanya, Ana mendapat kabar buruk yang kedua tentang keberadaan anaknya.

\”Iya, terimakasih Pak!” jawabanya mengakhiri percakapannya dengan penelpon yang bersumber dari kantor polisi.

\”Tidak mungkin, ini tidak mungkin!!” jeritnya tapi hanya di dalam dada.

… … …

\”Hallo, pak!” sapa Ana lagi terburu-buru lewat telepon.

\”Adaapa lagi, sih Ma! Ngurus anak satu saja tidak bisa! Bapak lagi sibuk! Jawabnya

\”Aldi, Pak, Aldi…!”

\”Iya, Aldi, kenapa!”

\”Aldi, tertangkap polisi, Pak!”

\”Apa!” geretak pak Broto langsung menutup telponnya lantas bergegas pulang.

\”Ma!, Ma!” suara Pak Broto memanggil-manggil istrinya setelah sampai pintu depan rumah. Berlari kecil menemui istrinya yang sedang terisak-isak menahan tangisannya.

Comments are closed.