silakhudin

Amarah !

Aku hanya bisa mengungkapkan isi hati yang sudah lama ini mendongkol dan mengganjal di hati dan menghalangi langkah dan gerakku, ketika Drs. Faisal kembali mengulangi kebiasaannya yang tidak senonoh dan tidak pantas dilakukan oleh seorang Drs.

\”Saya ingin melihatmu menganggap orang lain, orang yang di bawahmu sebagai manusia! Kapan Anda akan memandangku sebagai manusia? Kapan Anda akan bersikap seperti manusia?” kataku sangat dongkol\”Anda hanya bisa menyuruh, hanya bisa maido kalau Aku salah, Anda tidak pernah merasakan kesusahan yang orang lain rasakan, Anda tidak pernah mengakui kebaikan-kebaikan yang sudah orang lain lakukan” tambahku lagi kebih mendongkol.

Drs. Faisal hanya cengar-cengir, tidak berkata apa-apa, tampak tidak peduli, acuh  dengan amarah yang sedang aku umbar. Hatiku lebih mendongkol melihat Drs. Faisal yang masih cengar-cengir sambil membereskan berkas-berkas yang tidak tertata di mejanya. Dia malah bersenandung. \”Masyaa Allah…., orang macam apa kau ini” ucapku membatin.

\”Anda tidak pernah melihat kebaikan dan jasa yang Aku lakukan. Di matamu hanya ada secercah demi secercah kesalahan yang menumpuk, yang tidak pernah hilang sampai kapanpun. Anda tidak pernah memberikan solusi, hanya marah, marah dan marah. Orang macam apa Anda ini!” kataku penuh amarah lebih menggeretak lagi.

Memang itulah yang selama ini mengganjal di dadaku. Memang itulah yang sering aku bayangkan setiap kali dia tidak memperlakukanku sebagai manusia, seolah-olah menjadi budak suruhan belaka, apapun yang diminta harus segera dilaksanakan, kalau tidak jangan ditanya lagi, pasti ungkapan-ungkapan nylekit yang biasa bertengger di telingaku keluar dari mulut besarnya.

Kebaikanku tidak ada artinya di depan matanya, gajah di pelupuk mata tidak kehilahatan, tapi semut yang ada di seberang lautan justru kelihatan, mungkin pribahasa ini pas untuk mengungkapkan kelakuannya.

Seketika, karyawan-karyawan yang berada di dalam kantor terdiam menyaksikan geretakan yang Aku ungkapkan, semuanya tidak percaya dan tidak menyangka kalau aku bisa melakukan hal senekat ini, kehilangan pekerjaan akibatnya, dipecat akibatnya. Setahu mereka aku adalah orang yang penyabar, penurut dan kalem, tapi anggapan itu semuanya pudar dari hadapan mereka.

Amarahku meledak, leherku membengkak, mataku memerah terbelalak, mulutku bergetar dan wajahku, tidak ada yang berani menatapku saat itu. Semua karyawan, termasuk Drs Faisal yang jadi sasaran pelampiasan amarahku, kelihatan kecil dan lemah, semuanya tidak berdaya, seolah aku menjadi raksasa yang hendak memakan mereka.

Aku langsung keluar dari ruangan itu setelah melampiaskan amarahku. Dadaku  sesak, kepalaku panas, sepertinya mau meledak dan nafasku terengah-engah tidak teratur.

Rupanya dari salah satu pihak kantor ada yang mengikutiku dari belakang. Aku duduk di ruangan lain, duduk di kursi empuk yang berderet di ruangan itu, dan kaki Aku letakkan lurus di atas kayu yang dipasang permanen di empat kaki meja, dan pak Agus, orang kantor yang mengikutiku dari belakang juga duduk di kursi empuk yang berada di sampingku, samping kiri, tapi dia hanya terdiam, tidak keluar apapun dari mulutnya.

\”Pak Faisal menganggap dirinya itu siapa!” kataku tidak nyambung dengan pertanyaan pak Agus ketika berusaha meredakan amarah yang masih bersemayam di dadaku. Pak Agus masih kelihatan kecil dihadapanku, masih kelihatan lemah tidak berdaya, karyawan-karyawan yang sekarang berada di sekelilingku juga kelihatan lemah tidak berdaya. Tapi mereka belum tahu apa yang baru saja Aku lakukan di kantor.

Aku terdiam, pak Agus terdiam, semuanya terdiam. Keadaan menjadi sunyi, rupanya ruangan itu juga tahu perasaanku, udara ruangan itu serta merta takut, kalah dengan setiap hawa panas nafas yang aku hembuskan.

Pak Agus bingung bagaimana dan dari mana dia harus mengawali suaranya untuk meredakan amarahku. Aku juga bingung, salah tingkah, menggerakkan kaki juga kelihatannya salah, berulang kali aku menengok ke kanan dan ke kiri, juga kebelakang, tapi masih terdiam, mulutku terkunci untuk bersuara, tapi nafasku terus terhembus keras dan sesekali  aku hembuskan ke atas.

Merasa serba salah, pak Agus berdiri dan pergi meninggalkanku, dagu aku angkat, kepala aku sandarkan di sandaran kursi empuk yang sedang aku duduki, dan mata aku pejamkan beberapa saat.  Amarahku mulai reda, setan-setan yang menyelimuti hatiku dengan kegelapan mulai melepaskan selimutnya, gambar ibuku tiba-tiba melayang membayang dalam pikiranku, seolah-olah suara ibuku berdenging di telingaku, aku ingat pesan ibu, aku ingat pada kedua orang tuaku, juga kakekku yang selalu menyirami hatiku dengan nasihat-nasihat keramahan, kerendahan hati dan kebijakan.

Darah yang mengumpul di kepalaku mulai turun dan mengalir ke seluruh tubuh, darah di tubuhku kembali mengalir normal. Penyesalan menghampiriku perlahan, mengingat perbuatan yang baru saja aku lakukan, tapi, mungkin untuk sementara. Sudah sering aku mengalami kejadian seperti ini, tapi tidak sempat meledak, tidak sampai melepas rantai yang memborgol harimau-harimau lapar yang ada di dadaku.

\”Sabar, Shilah, sabar…” kataku berulang-ulang membatin berusaha meredakan diri, mengingat kembali kejadian beberapa menit yang lalu. \”Tenang-tenang…” kataku kembali membatin meredakan amarah. Semakin aku terlelap mengingat kejadian yang tidak sehat itu. Tapi semakin aku mengingat, perasaanku terbawa dan terasa terulang lagi untuk yang kesekian kali.

Sebenarnya bukan cuma Aku yang mengalami hal serupa. Temanku, Mujayin, juga pernah merasakan hal yang sama sebelum akhirnya dia berhenti bekerja. Dia  mengundurkan diri. Dia juga diperlakukan sama seperti aku, dan memang kelihatannya semua orang juga diperlakukan sama seperti aku. Mungkin memang sudah wataknya Drs. Faisal itu memperlakukan orang lain seperti ini, tidak menghormati orang lain seperti layaknya orang yang berpendidikan.

Hatiku lega setelah melepaskan harimau-harimau yang sudah lama bersemayam di dadaku. \”Bral!!!” terasa enteng, pikiranku juga enteng. Tidak tersisa amarah yang bergejolak di dadaku, sedikitpun tidak. Mungkin seperti inilah amarah yang ada pada setiap manusia. Seperti petasan, sekali meledak maka sudahlah, yang ada hanyalah hamburan kertas yang berserakan, seperti amarahku yang seketika berhamburan entah kemana. Hanya tinggal penyesalan bercampur rasa khawatir.

Aku harus siap-siap menerima panggilan dari atasan Drs. Faisal, untuk menerimasurat,suratpemberhentian kerja, karena telah mengumbar harimau-harimau lapar yang ada di dadaku dan memakan habis kehormatan yang ada pada Drs. Faisal di depan banyak orang.

Memang beginilah resikonya, beginilah akibat dari perbuatan yang telah aku lakukan. Tapi aku harus terima, aku bukan siapa-siapa di kantor ini, hanya kariawan biasa, dipecatpun tidak mengurangi, bahkan tidak menggoyah sedikitpun, kewibawaan kantor ini. Mungkin kehadiranku di kantor ini juga sama dengan ketidakhadiranku, adanya seperti tidak adanya. Tidak berpengaruh sedikitpun. Masih banyak pendaftar lain yang mengantri, menunggu giliran untuk dipanggil dan dipekerjakan di kantor ini.

Beberapa jam kemudian setelah amarahku reda, agenda yang saya tunggupun akhirnya datang juga. Aku dipanggil oleh atasan Drs. Faisal, H. Ahmad Toha.

\”Assalamu\’alaikum…”

\”Wa\’alaikum salam. Masuk!”

\”Silakan, duduk”

Aku duduk di depan meja kebesaran H. Ahmad dengan menahan segala tingkah-tingkah tidak sopan. Semua gerak aku perhitungkan. aku duduk terdiam dan berusaha memperlihatkan tingkah asliku, merapatkan lutut kaki dan memangkukan kedua tanganku merapat. Tubuhku terasa kecil setelah berubah menjadi raksasa beberapa jam yang lalu. Sekarang H. Ahmad yang seolah menjadi raksasa. Aku terasa kecil di hadapannya. Tidak berdaya. Menatap H Ahmad saja dengan pandangan kabur. Aku tidak berani. Terasa nyawaku tinggal setengah. Sedikitpun aku tidak bisa berkutik dihadapannya.

\”Maaf, Pak Haji, saya tahu semua ada aturannya, karyawan harus taat kepada atasan dan atasan harus taat pada atasannya juga dan atasan harus taat kepada-Nya.  Semua akan ada pertanggungjawaban di depan-Nya nanti” kataku sebelum H. Ahmad banyak bertanya.

Aku berusaha berkata dengan santun, tapi aku tidak tahu kalimat yang baru saja keluar dari mulutku sopan apa tidak?. Semoga saja H. Ahmad tidak mempermasalahkan intonasi yang keluar dari mulut terdakwa ini.

Aku berusaha berkata jujur apa adanya, nadaku datar menceritakan semua yang terjadi dengan pikiran terbuka, tapi tanpa sadar nada bicaraku tiba-tiba terdengar keras ketika sedang menceritakan inti masalahnya. Aku juga tidak tahu kenapa? Tapi aku sadar. Mungkin amarahku tumbuh lagi, aku terbawa emosi, setan-setan laknat itu datang lagi dan berusaha kembali menyelimuti hatiku yang masih renta.

\”Tapi Pak Faisal itu…!”

\”Ya! Ya, sudah, cukup!” cegat H. Ahmad ketika aku akan membeberkan semua kejelekan Drs. Faisal, menurutku, di depannya. Dia tidak mau mendengarkan kejelekan Drs. Faisal yang akan aku beberkan kepadanya. Tidak tahu kenapa? Pak Haji mendengar intonasiku mulai meninggi ketika itu, mungkin. Tapi tidak tahu. Pak Haji tidak ingin Aku terbawa emosi lagi karena harus kembali mengungkit kejadian itu, tapi tidak tahu juga.

\”Mungkin akan lebih baik lagi kalau kamu tidak melepaskan emosimu, Mas Shilah…” katanya bijak memberi saran. Beliau memanggilku dengan sebutan \”Mas”, Mas Shilah, aku suka panggilan ini. Intonasinya kedengaran sangat akrab. \”Mas Shilah akan dinilai orang lain sebagai pemarah dan pemberontak, kalau tidak bisa menahan amarah” sambungnya meneruskan sarannya. Kalau yang ngomong seperti ini Pak Haji Ahmad, Aku terima. Beliau sudah cukup umur. Dua setengah lipat umurku. Sudah banyak makan garam dan selalu mempertimbangkan akibat dari segala tindakan yang akan beliau lakukan.

Mungkin bukan hanya Aku yang mau menerima sarannya, orang lain juga akan menerima setiap saran yang keluar dari lisannya, ucapannya sesuai dengan prilakunya. Aku sangat suka dan rindu dengan orang seperti ini, kenapa baru kali ini aku bisa mengenal pak Haji?.

\”Sebelumnya saya juga pernah mengalami hal yang serupa seperti Mas Shilah, tapi dulu, sewaktu masih muda. Sewaktu baru berpengalaman seperti Mas Shilah. Saya selalu mengalah, saya tidak punya power untuk melawan, percuma, hasilnya pasti tidak baik”. Setiap Pak Haji menyebutku Mas, hatiku luluh, mataku berbinar, wajahku kembali rileks, segar, beban berat di mukaku  tidak kuat menahan pancaran sinar mata pak Haji. Sisa-sisa amarah yang bercokol di hatiku tersingkir punah, termasuk amarah yang tumbuh ketika aku menjelaskan kejadian yang baru saja aku alami. Seperti anak kecil, seperti cucu yang sedang mendengarkan nasihat kakeknya. \”Ya Allah…Aku bisa sebangga ini…?”

\”Berontak tidak akan menambah kewibawaan, menyelesaikan masalah apalagi menaikkan karir. Mas Shilah tidak akan pernah berhasil kalau tidak bisa menahan diri. Karena, katanya hawa nafsu itu seperti anak kecil, semakin dituruti maka semakin ketagihan. Kita tidak boleh menuruti segala sesuatu yang diminta oleh anak kecil. akan berakibat fatal. Karena anak kecil akan menganggapnya benar dan akhirnya timbul sifat manja” sambungnya panjang lebar.

Aku dapat banyak masukan dari nasihat H. Ahmad. Aku bertekad tidak akan mengulangi lagi perbuatan yang memalukan ini. Aku akan berusaha menjadi kariawan yang sehat dan profesional. Tapi bagaimana kalau orang itu memancing lagi emosiku? Entahlah.

Panjang lebar H. Ahmad menasihatiku, memberi kuliah padaku, memberi ceramah padaku. Entah apalah namanya, yang jelas semangatku tumbuh kembali mendengar kata-katanya.

Tapi….

Bukankah Haji Ahmad memanggilku karena akan memecatku? karena aku telah berbuat tidak sopan pada tangan kanannya, Drs. Faisal. Kenapa jadi begini? Sedikit memandang kesalahanku saja tidak. Aku merasakannya dari sorot mata pak Haji. Sama  sekali tidak ada nilai salah bagiku. Aku tidak percaya, tapi memang, pak Haji sama sekali tidak memperlihatkan nilai salah untukku.

\”Pak Haji tidak mungkin memecatku. Aku yakin” ucapku membatin optimis, \”Orang sebaik pak Haji akan memecatku, anak baru kemarin? tidak mungkin, pasti dia hanya akan menganggap kejadian ini sebagai pengalaman dan pelajaran bagiku”. Batinku penuh harap.

\”Saya kasih kesempatan sekali lagi, saya harap kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi”. Selanya datar.

Aku hanya bisa mengangguk.

\”Ya sudah,  kamu boleh kembali lagi ke tempat kerjamu!”

Tidak bisa terbayangkan perasaanku saat itu.

Karyawan lain salah menilai Haji Ahmad. Mereka mengira beliau akan memecatku, memecat karyawan yang sudah berani berbuat kasar kepada tangan kanannya. Haji Ahmad tidak pantas menyandang gelar seperti itu, seperti dugaan kariawan lain yang belum pernah kenal dekat dengan Haji Ahmad.

\”Terimakasih, Pak Haji. Permisi”

Haji Ahmad hanya sedikit mengangguk dan sedikit memejamkan mata. Tersirat dari pancaran matanya menyertaiku dengan doa.

Aku langsung kembali ke ruang kerjaku. Menyelesaikan pekerjaan yang beberapa jam tadi belum sempat saya sentuh. Muka merahku berubah menjadi cerah. Tidak seperti sebelumnya, sebelum mendapat panggilan, begitulah kata karyawan yang mejanya berdekatan dengan meja saya.

\”Bukannya kamu…” kata salah satu temanku heran melihat muka ku riang.

\”Pak Haji tidak memecatku” cegatku menimpali

Banyak yang mengira, kalau aku bakal kehilangan pekerjaan. Banyak yang mengira dan berbisik. Sepertinya mengumpatiku. Tapi aku tidak peduli. Aku tidak tahu. Yang penting sekarang aku kenal siapa Haji Ahmad. Aku tahu sifatnya. Aku tahu begitu besar rasa hormatnya terhadap orang lain mengharagai dan bijak bila dibandingkan dengan orang itu, orang yang termakan habis amarahku pagi tadi.

Tidak lama berselang setelah amarahku reda, dari jendela kaca ruang kerjaku terlihat sosok laki-laki paruh baya berkumis dan berkaca mata yang berjalan melintas di depan jendela. Berjalan dengan gayanya dan bergaya dengan gayakhasnya. Laki-laki itu tidak asing lagi. Aku mengenalnya dengan baik. Tidak mungkin Aku lupa. Karena ternyata orang itu adalah Drs. Faisal. Hatiku kembali mendongkol melihat gayakhasnya dan tiba-tiba juga mukaku memerah. Kepalaku terasa berat dan mataku muak melihatnya.

Comments are closed.