silakhudin

APAKAH INI DENDAM?

Maman sedang menunggu pak Usman, penjual bubur ayam yang setiap pagi lewat di jalan samping rumah. Sambil menunggu biasanya Maman bermain Skiping atau Bulu tangkis, untuk sekedar melemaskan otot-ototnya yang kaku setelah beberapa jam tidur malam. Begitu juga dengan adik perempuannya yang sudah kelas tiga SMA, Rina, yang sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional, yang standar nilainya tidak lagi empat koma sekian, tahun ini naik menjadi lima koma sekian.

Walau demikian, Rina tidak mau meninggalkan olah raga kegemarannya, bermain bulu tangkis. Rina tidak mau gara-gara target nilai Ujian Nasional tahun ini bertambah, lantas harus meninggalkan kebiasaan olah raganya, walaupun untuk sementara.

\”Kamu ga sekolah…?” tanya Maman sekedar mengingatkan, sambil membetulkan bulu shuttle cock yang sudah agak rusak.

\”Nanti, baru pukul enam kurang…” jawabnya sambil memegang raket dan memukul-mukulkan senarnya yang tersusun kotak-kotak ke telapak tangan kiri. Posisi keduanya sudah saling berhadapan. Rina tinggal menunggu Maman mengoperkan shuttle cocknya.

\”Apa tidak sebaiknya kamu belajar…?” tanya Maman sekedar ngetes \”Untuk menjebol nilai ujianmu nanti…, yang harus berapa…?” tanyanya sambil mengoperkan shuttle cock yang pertama.

\”Limakoma sekian…!” sambung Rina sambil menangkis shuttle cock yang baru saja dioperkan.

\”Bagaimana bisa berpikir jernih, kalau badannya saja lemah, ringkih dan mudah sakit!” sambungnya optimis sambil menyemes shuttle cock yang di operkan melambung, walaupun masih bisa ditangkis juga.

Sebenarnya Maman sekedar mengetes, sejauh mana semangat dan kesiapan adiknya dalam menghadapi Ujian Nasional nanti. Di samping itu, Maman juga mempunyai maksud tertentu dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilemparkan kepada Rina. Maman merasa bahwa dirinya harus bisa mendekatinya dan membantunya agar dia bisa memecahkan masalah-masalahnya. Maman harus bisa menjadi teman curhatnya ketika berada di rumah. Setidaknya tahu, kalau anak seusia Rina lebih dekat dengan temannya dibandingkan dengan kedua orang tuanya sendiri, apalagi sama kakak laki-lakinya.

Sedikit banyaknya Maman tahu tentang hal ini. Maman tahu apa yang harus dia lakukan, terutama ketika adiknya kelihatan berbeda dari biasanya. Jelas saja, karena dia adalah sarjana yang sudah menyandang S-2 di Malysia, sarjana psikologi, ilmu yang mempelajari individu manusia. Bahkan karena keuletannya dia direkrut untuk menjadi Dosen di universitasnya, dulu,  tempat menyelesaikan studi S I-nya.

Lagipula Maman juga pernah merasakan menjadi siswa kelas tiga SMA, kebetulan Rina sekolah di sekolah yang sama, sehingga Maman juga tahu kegiatan apa saja yang harus dikerjakan di luar kelas, dia juga masih ingat beban apa saja yang harus ditanggung oleh siswa kelas tiga SMA ketika akan menghadapi Ujian Nasional. Kalaupun berbeda pasti tidak terlalu jauh.

\”Ting-ting, ting-ting, tinting, ting, ting ting…”

Suara yang tidak asing lagi di telinga mereka mulai terdengar, tapi kedengaran masih jauh. Mereka menghentikan permainannya. Sambil melepas lelah mereka berkali-kali tarik nafas panjang. Dalam dunia persilatan mungkin ini yang dinamakan pernafasan suci, sekedar untuk peleraian. Rasa cape yang dirasakannya pun sedikit demi sedikit menghilang. Satu botol air putih yang tersedia di jendela diraihnya kemudian di minumnya bergantian.

Beberapa menit berlalu, suara yang sama terdengar lagi. Kali ini memang sudah berada di samping rumah.

\”Biasa Man, dua. Tidak pedes ya…!”

Pak Usman hanya membalas dengan anggukan. Tentunya sambil menakar pesanan mereka dan meracik bumbu dengan racikan yang sudah di luar kepala. Hanya dengan beberapa menit saja dua mangkuk bubur tersedia.

\”Ini Mas, Mba…” sahutnya menyodorkan.

Mereka meraihnya. Rina menyantap dengan lahap. Maman hanya bisa menggelengkan kepala, heran melihat Rina yang seakan tidak merasakan rasa panas sama sekali. \”Pelan-pelan!” sela Maman.

Rina tampak tidak peduli. Walaupun akhirnya memberikan alasan juga setelah menyantap habis. Katanya tidak boleh terlambat, karena akan dikenai hukuman dan masuk catatan BP, bahkan tidak diperbolehkan masuk ketika pak Hari, Satpam, sudah menutup dan mengunci gerbang depan. Benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Pak Hari tidak mau membukakan gerbang kecuali atas persetujuan kepala sekolah dan guru BP. Tidak seperti dulu waktu Maman masih sekolah. Sebelumnya memang belum ada satpam, tapi sekarang sudah mulai tertib. Siswa terlambat atau membolos sekarang bukan lagunya lagi.

\”Tambah Mba?” sahut pak Usman melihat mangkok Rina.

Rina menggeleng. \”Cukup, Man!” selanya. \”O, ya, bayarnya sama ka Maman yah…?” sambungnya sambil meletakkan mangkot lantas bergegas masuk.

Pak Usman hanya mengangguk dan sedikit tersenyum, iri melihat Rina yang kelihatan cerdas dan lincah. Apalagi ketika melihatnya mengenakan seragam Abu-abu Putih. Dia kembali mengingat anaknya yang tidak pernah dia sekolahkan. Sekolahnya putus ketika baru kelaslimaSekolah Dasar.

\”Ting-ting, ting-ting, ting-ting, ting, ting, ting…”

\”Buryam-buryam…!”

Sambil menunggu, Pak Usman kembali menjajakkan bubur ayam dagangannya. Berkali-kali memukul pelan-pelan mangkok khusus yang berada di depan pintu etalase kecil yang ada di grobaknya dengan sendok stainles kecil.

Beberapa menit berselang, terlihat anak kecil keluar dari rumah yang masih gelap, membawa mangkuk plastik kecil warna hijau dan sendok stainles kecil. Nampaknya baru bangun tidur, wajahnya masih kusut dan rambutnya masih berantakan. Anak kecil itu tidak mengenakan celana, hanya mengenakan kaos lekton putih yang kotor. Orang kaya biasanya merasa jijik melihat anak kecil yang berpenampilan seperti ini. Di sekitar mulutnya banyak ingus yang sudah mengering, sehingga kelihatan berwarna hitam.

Tanpa berkata apa-apa, anak kecil itu menyodorkan mangkok plastik warna hijau yang tengah dibawanya, sekaligus dengan sendok stainles kecil di atasnya, sambil menatap ragu bercampur takut ke mata pak Usman. Mungkin takut. Karena anak seusia ini tidak melihat siapa yang sedang dihadapi. Ketika dia kenal dengan orang yang dihadapi, maka dia mau. Sebaliknya, ketika dia tidak kenal, maka dia pun tidak mau berdekatan dengan orang itu.

Pada fase usia ini, perkembangan yang terjadi pada anak adalah antara percaya dan tidak percaya. Apalagi dengan pak Usman. Laki-laki  berjenggot tebal dan berkulit matang, khas terbakar sengatan panas matahari. Tapi bisa disangka kalau pak Usman adalah orang yang bertanggung jawab kepada istri dan anaknya. Dia mau bekerja apa saja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Menjual krupuk adalah pekerjaan tambahan yang dijalankan pak Usman sehari-hari setelah menjual bubur ayam.

\”Pak, si Adi minta buburnya dulu…!” suara tanpa rupa terdengar dari rumah gelap itu \”Tapi setengah saja, tidak habis…!” sambungnya.

\”Ini de…”

Adi meraihnya sambil menatap mata pak Usman, tanpa melihat apa yang sekarang sedang diraihnya lantas langsung berjalan cepat-cepat ke arah depan rumahnya. Dia meletakkan buburnya di depan pintu sesampainya di depan pintu rumah. Anak kecil itu terus menatap wajah pak Usman sambil menjilati sendok kecil yang manis karena sedikit terkena kecap.

Pak Usman tidak peduli tentang hal itu, pak Usman menganggapnya hal yang biasa kemudian kembali menawarkan bubur ayamnya sambil memukul mangkuk yang sekarang sedang dipegangnya.

\”Ini pak!” sahut Maman \”Berapa?”

\”Biasa…”

Padahal Maman sudah tahu berapa dia harus bayar. Karena hampir setiap hari dia langganan pak Usman.

\”Bubur …!”

Dari arah selatan, terusan jalan yang nantinya akan dilaluinya juga, seorang ibu, bu Hajah, memanggil. Pak Usman pun maklum. Sudah terlalu biasa dipanggil dengan sebutan itu. Dia juga sering dipanggil \”krupuk” ketika sedang menjual krupuk

Bu Hajah berjalan ke arah pak Usman, membawa dua mangkuk plastik warna hijau untuk dua anaknya yang masih kecil. Nampaknya ibu-ibu lebih suka membelikan mangkuk warna hijau kepada anaknya dari pada warna yang lain.

\”Masih, Pak…?” tanyanya seraya melongok ke dalam dandang dan meletakkan dua mangkuk hijaunya tertumpuk di samping etalase kecil yang menempel dengan grobak.

\”Satu, Pak!”

Sahut Yani sambil menggendong anak kecilnya, yang tiba-tiba sudah berada di belakang pak Usman, seraya meletakkan mangkuk hijaunya di samping kedua mangkuk hijau bu Hajah yang tertumpuk.

Pak Usman melayani mereka dengan porsi yang sedikit, dia tahu kalau bubur yang dibelinya bukan untuk orang dewasa, tapi untuk anak-anak, kelihatan dari wadah yang dibawanya. Harganya pun sudah otomatis berbeda, setengah dari satu porsi orang dewasa.

Tidak seperti biasanya, bubur ayam pak Usman habis begitu cepat. Biasanya masih tersisa sekitar seper empat dandang ketika baru sampai di lingkungan Maman. Pak Usman masih harus keliling untuk menghabiskannya.

Hampir saja, Hani, tetangga dekat Maman yang sedang menderita radang tenggorokan, tidak kebagian dan tidak bisa meminum obat yang diresepkan dokter dengan teratur. Dokter meresepkan harus makan kemudian meminumnya setengah jam kemudian.

\”Di rumah saja, Mas?” tanya pak Usman.

\”Iya, lagi tidak ada jadwal”

\”Sudah habis, Pak…?”. Tanyanya.

Pak Usman duduk di teras rumah Maman untuk menghembuskan nafas syukur, sambil beristirahat. Sesuai dengan jadwal, pak Usman selalu pulang pukul delapan sampai rumah, sekarang baru pukul tujuh kurang sepuluh menit.

Dari dalam rumah Rina keluar. Melihat Rina berbaju putih abu-abu panjang dan berkerudung putih, rasa iri pak Usman muncul lagi, setelah melihatnya sarapan bersama kakaknya. Dia kembali merasa bersalah. Rasa bersalahnya kelihatan ketika dia mengekspresikan wajahnya yang kecut dan matanya yang berkaca-kaca.

\”Adaapa, Pak ?”

\”Seneng yah…, melihat anak sekolah?” Cletuk pak Usman melihat Rina. Kedua matanya mengisayaratkan angan-angan. Maman sedikit curiga dengan cletukan yang baru saja keluar dari mulut pak Usman

\”Memangnya kenapa, Pak ?” sela Maman penuh tanda tanya.

Maman menebak kalau pak Usman tidak pernah merasakan nikmatnya jadi anak remaja. Maman melihatnya dari kulit wajah pak Usman yang kelihatan hitam terbakar matahari dan kusut termakan kesibukan.

\”Memang, sejak kecil saya tidak pernah merasakan bisa belajar di sekolah setelah kelas empat SD. Bapak saya tidak pernah memberi kesempatan kepada saya untuk belajar seperti teman-teman yang lain”. Keluh pak Usman.

\”Sejak kecil saya hanya disuruh menggembala kambing dan kerbau. Saya disuruh mencari rumput ketika matahari mulai mengulurkan bayangan saya ke arah Timur dan menggembalakannya ketika matahari mengulurkan bayangan saya ke arah Barat” keluhnya lebih lanjut.

\”Hampir waktu kecilku, waktu remajaku hingga sekarang, habis ditelan kesibukan, dan habis ditelan waktu yang begitu cepat”.

\”Sekarang usia saya sudah empat puluhlimatahun.Yang ada dibenak hati saya mulai dari menikah hingga sekarang adalah bagaimana caranya supaya saya bisa hidup dan bagaimana caranya supaya saya bisa keluar dari masalah ini!”. Sambungnya memelas.

\”Padahal sengaja, duit upah dari pekerjaan saya sisihkan, supaya bisa untuk meneruskan sekolah dan membeli buku tanpa harus minta kepada orang tua, tapi, beginilah, nyatanya sampai sekarang saya masih harus berkeliling kampung setiap hari”.

Sebenarnya Maman sudah memberikan solusi, hanya saja pak Usman tidak pernah mendengarkannya, karena Maman tidak sempat mengatakan sepatah kata pun di tengah ceritanya. Dia hanya mengangguk saja _seperti sapi ompong_ ketika pandangan dilemparkan ke arah matanya. Maman hanya memberikan jawaban atas solusinya di dalam hati, ditengah-tengah pak Usman sedang menceritakan keluhannya.

\”Tapi, Bapak tidak putus asakan?” tanya Maman setelah mendapat kesempatan untuk menyelainya. Ini adalah satu-satunya pertanyaan yang belum sempat terjawab. Semua pertanyaan yang ada di benak hatinya sudah terurai sebelum ditanyakan, seolah sudah terketik rapi.

Pak Usman tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya menampakkan wajahnya yang menyiratkan kekecewaan.

\”Anak dan istri Bapak?

\”Istri saya membuat krupuk, untuk saya jual sepulang menjual bubur” jawabnya, pandangan kaburnya dihadapkan ke langit.

\”Dan anak Bapak? Tanyanya lagi menyelidik

\”Anak-anak…” jawabnya, sambil mengangkat badan dari duduknya dan sedikit menarik nafas.

\” Mereka…, tidak saya sekolahkan…!”

\”Kenapa, Pak…?”

\”Itulah masalahnya…!”

Pak Usman bergegas memegang dua tangan grobak kemudian langsung malangkahkan kakinya _yang tidak teratur_ lantas pergi.

Comments are closed.