silakhudin

Emansipasi?

Bayanganku masih memanjang dua kali lipat ke arah Barat. Satu jam lebih saya menunggu bis Kurnia jurusan Tegal-Purwokerto. Matahari menarik bayanganku menjadi sepadan dengan tinggi badanku. Sesekali terlihat, sesekali tidak, karena posisiku yang tidak tenang dan terhalang pohon Mahoni besar yang sudah ratusan tahun berdiri mengangkang disamping jalan sebelah kananku.

Pucuk gunung selamet masih kelihatan jelas, seolah hanya beberapa meter saja dari pandanganku. Sedikit demi sedikit terselimuti oleh awan putih yang mengepul seperti kapas. Di puncaknya tampak datar. Katanya karena sudah terlalu tinggi hampir sampai langit lantas dipotong oleh malaikat. Makanya terlihat seperti kue yang dipotong. Benar apa tidak aku tidak tahu, memang waktu kecil saya sempat percaya begitu saja cerita-cerita itu, bahkan yang lebih mustahil sekalipun.

Tujuh becak yang berbaris di seberang jalan dekat pertigaan kelihatan seperti perumahan kumuh. Satu kaki, dua kaki dan tiga kaki yang keluar dari dalam becak yang berbaris nampak jelas dari pandanganku. Asap hitam yang terhembus dari metromini berkali-kali hinggap di muka mereka yang masih terlelap setelah semalaman mengadu nasib menunggu penumpang datang. Satu-satunya harapan mereka adalah mendapatkan penumpang yang baru pulang dariJakarta.

Kadang-kadang dapat, kadang-kadang tidak.

Kalaupun dapat paling-paling hanya cukup untuk makan satu hari saja, itupun dengan menu yang apa adanya. Dan kalau tidak dapat, bagaimana kalau setiap hari tidak dapat penumpang sama sekali?.

Dari jarak seratus meter nampak kepala bis. Kelihatannya bis yang sedang saya tunggu. Tapi beberapa detik tampak jelas tulisan patas dan lampu riting warna orange sebelah kiri menyala, satu kaki kondektur mulai kelihatan dan perlahan turun seraya menurunkan tas besar berwarna hitam berbentuk kapsul, kelihatannya berat, penuh dengan isi, kemudian turun dua pemuda dengan jaket serba hitam, celana serba levis dan serba bersepatu. Mereka mencangklongkan tas yang sama dan beberapa menit menghilang dari pandanganku setelah melewati pertigaan yang penuh dengan tukang becak yang masih terlelap.

Lagi-lagi bukan!.

Tukang becak berbadan besar melintas di depanku, mendorong becaknya yang berisi seorang ibu beserta barang-barang belanjannya dengan antusias, sepatunya putih, teman-teman saya biasa menyebutnya sepatu dragon yang biasa dipakai untuk lari pagi. Gayanya berbeda dengan tukang becak lainnya, langkahnya pendek, rambutnya panjang diikat menjulur ke belakang dan bercaping hitam.

Saya baru tahu kalau tukang becak itu ternyata seorang ibu.

Mendadak aku jadi sok tahu bagaimana keadaan keluarganya, dimana suaminya, bagaimana keadaan anak-anaknya dan bagaimana anaknya menyambut ketika pulang. Semuanya tergambar di depan mata.

Tapi yang jelas dia sudah mendapatkan penumpang, entah untuk yang berapa kalinya dia mengangkut penumpang pagi ini, dibanding dengan bapak-bapak tukang becak yang masih terlelap. Kalau satu kali angkutan dari pasar sampai tujuan dibayar tiga ribu, maka kalau pagi ini sudah dapat dua penumpang berarti sudah dua kali lipat yang ia dapat, bahkan lebih kalau tempat tujuannya lebih jauh. Gambaran yang ada di pikiranku menghilang.

Man Tomo, yang rumahnya hanya berapa meter saja dariku, belum dapat se peserpun. Dia masih terlelap tidur. Hanya dapat asap hitam, panas dan kotor, yang dihembuskan berkali-kali dari corong kotor mentromini.

Sedangkan keluarganya, bagaimana dengan kaluarganya di rumah? Mungkin hanya bisa gigit jari ketika suaminya pulang tanpa membawa hasil, dapat kata-kata bernada antagonis dari istrinya? atau justru mendapat nasihat dari istrinya karena dia adalah istri yang sholehah, penuh pengertian, sabar dan mau menerima apa adanya? Aku kembali serba sok tahu.

Ditambah lagi, mungkin harus rela kalau anaknya yang sedang duduk dibangku sekolah tidak diberi uang jajan, apalagi membayar spp bulanan, duit dari mana?. Jangankan buat itu, untuk keperluan sehari-hari saja cukup apa tidak. Jangan-jangan malah tidak sekolah?

Aku bertambah yakin yang dikatakan Mbah saya \”Waktu pagi itu bukan waktu untuk tidur” aku ingat ibarat yang mengatakan \”Di pagi hari burung terbang mencari makan, dan petang pulang dengan perut yang kenyang”. Tetapi manusia yang diberi pikiran justru sebaliknya. Buktinya!.

\”Rejekinya dipatok ayam”.

Sinar matahari kian memutih, pucuk Gunung Slamet mulai menghilang, mulai tidak tampak. Aku heran kenapa di pagi hari tampak, tapi di siang hari menghilang? Ah, masa bodoh! Tapi kenapa ya?

Kurnia yang aku tunggu belum datang juga. Ibu tukang becak itu kembali melintas di depanku, kali ini lebih dekat, karena posisiku yang sedang menunggu kurnia, di sebelah kiri, mungkin kalau di negara lain tidak. Tampak dari beberapa meter dia hanya membawa tas ranjang yang biasa dibawa ibu-ibu ke pasar. Tepat di depanku dia memalingkan pandangannya ke mataku yang sedang memperhatikan, seketika aku gagu. Ibu itu tersenyum. Dagunya sedikit diangkat dan kedua alisnya naik. Mungkin mengisyaratkan pertanyaan,

\”Mau kemana?” sambil mengayunkan becaknya.

Aku tidak menjawab, hanya sedikit senyum dan mata menciut serta sedikit mengangguk.

Pikiranku kembali menyelami kehidupan ibu tukang becak yang baru saja melintas tepat di depanku.

Aku kembali melongok ke kanan, barangkali ada Kurnia. Aku kembali memalingkan pandangan ke ibu tukang becak yang baru beberapa meter terlihat dari belakang. Kakinya hampir tidak sampai ketika mengayun ke depan sampai ke bawah. Sehingga ketika kaki kiri yang mengayun maka badanya 99% bergoyang ke kiri, begitu juga ketika mengayun ke kanan. Tapi kelihatan lebih semangat dibandingkan Man Tomo CS, yang satu persatu baru bangun kemudian saling membangunkan yang lainnya dengan menggebrak tutup atas becak.

\”Tangi! Tangi! Tangi…!” Seperti satpol PP yang sedang menggusur perumahan kumuh di pingiran jalan.

Prok! Prok! Prok! \”Man!”

Tepuk tangan seorang ibu paruh baya terdengar dari arah kiri. Aku kembali memalingkan pandangan. Terlihat seorang ibu melambaikan tangannya memanggil ibu tukang becak dengan sebutan \”Man!”, sebutan untuk tukang apa saja yang berjenis kelamin laki-laki. Ibu tukang becak itu mendekat lalu memarkirkan becaknya tepat di depan penumpang.

\”Pasar!”

Ibu tukang becak hanya mengangguk.

Terbesit kembali makalah yang sudah aku tulis untuk menyelesaikan tugas akhir di Perguruan Tinggi Ma\’had Aly Al Hikmah 2. Aku memberi judul \”Analisis Batasan-Batasan Wanita Karir Dalam Pandangan Islam” Makalah tersebut Aku selesaikan dengan referensi-referensi dari berbagai buku berbahasaIndonesia dan kitab berbahasa Arab, di samping ada beberapa buku berbahasa asing yang sudah diterjemahkan oleh orangIndonesia yang mengulas kebudayaan-kebudayaan barat. Yang jelas tukang becak adalah salah satu karir, yang biasa dikerjakan oleh laki-laki.

Dalam batin aku bertanya, untuk mengetes dan menerapkan sejauh mana analisis yang sudah Aku selesaikan. Apakah pekerjaan ibu ini termasuk salah satu kategori yang dilarang oleh Islam? Apa alasan-alasannya? Bagaimana kalau ibu itu terpaksa karena suaminya sudah tidak ada sedangkan anak-anaknya masih kecil dan membutuhkan biaya untuk meneruskan pendidikannya?.

Aku juga masih ingat pembahasan yang diuraikan salah satu dosen mata kuliah Fikih Mu\’amalah, beliau menjelaskan salah satu fenomena yang terjadi di negara Eropa.

Pada awalnya wanita-wanita di negara Eropa menginginkan emansipasi wanita. Persamaan hak antara laki-laki dan wanita, sehingga banyak dijumpai supir-supir taksi berjenis kelamin wanita. Selain itu ada beberapa pekerjaan lain yang lazimnya dikerjakan oleh laki-laki tapi dikerjakan oleh wanita. Pada kenyataannya emansipasi ini tidak berjalan lama. Ternyata terbukti. Mereka _bahkan sebagian besar_ mengeluh dengan tingkat yang sangat besar. Tenaga dan pikiran mereka tidak kuat dan tidak memungkinkan untuk bekerja keras sebagaimana laki-laki.

Mungkin memang sudah kodrat, wanita tidak diciptakan untuk mencari nafkah. Nafkah adalah bagian suami sebagai kepala rumah tangga. Orang Jawa pernah mengatakan bahwa wanita sebaiknya berada di rumah, mengurus rumah tangga, menjaga amanat suami bahkan yang lebih kental pada masyarakat jawa adalah tugas istri berada di dapur, sumur dan kasur.

Tapi, entahlah… aku tidak tahu apakah ini yang dinamakan takdir atau bukan.

Ibu tukang becak terus mengayuh becaknya.

Aku tidak tahu, sudah berapa lama ibu ini bekerja sebagai tukang becak? Apakah dia akan tetap bertahan? Dalam batin aku bertanya.

Semoga saja Tuhan memberikan jalan yang terbaik untuk memudahkan Ibu itu dan mengeluarkannya dari kesulitan-kesulitan yang membuatnya tidak mampu menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya.

Tulisan Kurnia tampak di kaca depan sebuah bis yang sedang melaju cepat. Syukurlah. Kira-kira terlihat dari seratus meter, beberapa detik kemudian sampai di pertigaan. Berkali-kali aku melambai-lambaikan tangan. Laju Kurnia mulai lambat kemudian berhenti, kenet belakang turun mempersilakanku naik kemudian menawarkan.

\”Kerto! Kerto!” semua orang tahu, maksudnya Purwokerto

Aku mengawali kaki kiri _untuk naik_ atas saran kenet. Alhamdulillah, masih ada kursi kosong.

\”Yo, Kerto-kerto-kerto!” suara khas kenet kembali menyambar-nyambar, seraya melambai-lambaikan tangan pada setiap orang yang sedang berdiri di sebelah kiri. Kurnia kembali melaju pelan-pelan kemudian melaju cepat.

Comments are closed.