silakhudin

Ibu, cepatlah pulang…

Adzan Dzuhur sudah berkumandang lebih dari satu setengah jam. Panas terik matahari membuat semua orang enggan melakukan aktifitas, kecuali di halaman depan rumahku. Dua pohon kelapa yang bersebelahan menghalangi langsung masuknya sinar matahari ke halaman. Begitu juga dengan beberapa pohon mangga dan satu pohon mangga yang tegak, rimbun dan teduh, ditambah satu pohon jeruk yang bercabang melebar. Bentuknya sama seperti pohon mangga yang rimbun, hanya saja lebih kecil.

Semilir angin dibawahnya menarik para ibu untuk duduk-duduk di depan teras rumah dan lupa dengan anak-anaknya, sehingga perintah untuk tidur siang kepada anaknya sering tidak berlaku.

Mana ada anak kecil yang mau tidur siang di saat-saat seperti ini?.

Memang sudah menjadi kebiasaan. Hampir setiap orang tua di desaku menyuruh anaknya untuk tidur siang, tapi kebanyakan mereka menolak lantas lari ke depan halaman. Mungkin lebih asyik bermain rumah-rumahan yang dibuat dengan tanah. Mereka membuatnya dengan menggapitkan dua jari telunjuknya ke tanah yang sudah di sediakan. Atau mereka lebih memilih bermain pengantin-pengantinan.Ada yang menjadi dukun pengantin ada juga yang menjadi calon pengantinnya. Mungkin salah satu yang membuat orang dewasa tertawa adalah pengantinnya perempuan semua, hanya saja yang satu dihias sebagai pengantin wanita dan yang satu di hias sebagai pengantin pria.

Sedangkan sekelompok yang lain membuat serabi-serabian. Mereka mencetak tanah dengan wadah kecil tanpa di beri air, ada juga yang dicampur dengan sedikit air kemudian di atasnya ditaburi serbuk batu bata berwarna merah atau yang lainnya, sesuai dengan selera mereka.

Aku tersenyum melihat tingkah-tingkah mereka yang lucu. Anehnya lagi serabi-serabian yang mereka buat dibungkus menggunakan daun mangga yang lebar kemudian dimasukkan ke cepon-ceponan lantas dikirimkan kepada pengantin, untuk \”serahan” katanya. Siapa yang akan menyangka kalau mereka bisa melakukan hal semacam ini? Siapa yang mengajari mereka?.

Benar-benar membuatku tergugu dan sering bertanya-tanya apakah dulu aku seperti itu?

\”Ik, ambil sapu!” geretak wanita agak tua tiba-tiba kepada Hikmah, anak berusia enam tahun kurang, keponakannya sendiri.

Seketika Hikmah langsung menghentikan permainannya. Spontan lari kebingungan tanpa arah yang menentu. Seperti anak ayam ketika melihat alap-alap yang terbang di atasnya. Pikirannya buyar, pandangannya kabur tidak menentu. Aku tahu benar perasaan anak kecil yang seperti itu.

Hikmah langsung lari menuju ke rumah bulik-nya, setelah harus mendadak memakai sandal seadanya yang tergeletak di depan pintu rumahnya. Mungkin supaya tidak terkena marah untuk yang kedua kalinya. Belum sampai di depan pintu, sambil lari Hikmah kembali menatap tantenya dengan raut wajah khas anak kecil yang sedang tertekan karena ketakutan.

Keadaan menjadi berubah. Mereka yang sedang bermain tidak berani bersuara lagi. Nyanyian-nyanyian dan doa-doa yang mereka lantunkan ketika membuat rumah-rumahan atau serabi-serabian bahkan pengantin-pengantinan hilang seketika. Seoalah tidak pernah ada. Semuanya terdiam, kecuali Nisa yang sedang membuat serabi-serabian. Dia masih terus melantunkan doa-doa, hanya saja tidak ada yang mendengar selain kedua telinganya sendiiri dan aku, karena aku memang memperhatikan satu persatu perubahan emosi mereka.

Semua anak kecil menunduk, termasuk sepasang pengantin kecil dan dukunnya. Sedangkan para ibu yang sedang duduk ikut menyaksikan anak-anaknya bermain juga terdiam, termasuk Aku. Di dalam batin Aku malah mengutuki bulikku sendiri.

\”Di dalam!!” geretaknya lagi sambil menunjuk ke rumah Hikmah yang jaraknya hanya beberapa meter saja.

Hikmah berhenti sebentar, kelihatannya mencerna ucapan bulik, lantas berbalik 180 derajat kemudian lari masuk ke rumah. Hikmah mencoba mencari, dibelakang, di dapur, di balik pintu, kebingungan, sambil merengek ketakutan karena belum juga menemukannya.

\”Ik, ada apa? Cari apa?” sahut halus Mbak Nur sedikit heran, satu-satunya kakak yang tahu persis watak Hikmah, tahu kalau sedang marah, tahu kalau sedang ada masalah, heran kenapa tiba-tiba Hikmah yang sedang bermain berubah drastis menjadi ketus dan memperlihatkan wajah khas anak kecil yang tertekan dan ketakutan. Dia tidak menjawab pertanyaan Mbak Nur. Mbak Nur pun terus memperhatikan Hikmah yang kelihatan dari raut mukanya ada tekanan yang sangat berat.

Hikmah berhenti mencari. Hikmah berdiri pas di depan pintu kamarnya, kamar ibunya, sambil memegangi langse, korden pintu kamar.

\”Ik, cari apa?” tanyanya lagi lebih menyelidik.

\”Sapu!” sambil merengek memegangi langse kamarnya yang tertiup angin dari jendela kamar yang terbuka.

\”Sapu apa?”

\”Sapu!!” terangnya lebih memperlihatkan muka jengkelnya dengan nada lebih tinggi, menjerit dengan suaranya yang tertekan, sehingga terdengar lirih karena takut kedengaran bulik-nya. Hikmah tidak menyebutkan sapu apa yang dimaksud.

\”Iya, sapu buat apa?”

\”Sapu!!” rengeknya lebih keras dan lebih mangkel sambil menarik langse kamarnya. Hikmah hanya menyebut \”sapu” ketika ditanya dengan pertanyaan apapun. Itu berarti dia sudah sangat mangkel, jengkel penuh amarah, Nur tahu persis perasaan Hikmah waktu itu.

Nur menunjukkan sapu lantai.

\”Ini, sapu?”

\”Bukan!” jawabnya lebih menampakkan wajah jengkel

\”Sapu!!” selanya lagi lebih mangkel.

Nur menunjukkan sapu lidi. Hikmah terdiam. Dia tidak berani keluar apalagi memberikan sapu ke bulik. Hikmah tidak meneruskan permainannya, menyendiri di kamar ibunya, berdiri di depan cermin lemari, pipinya ditempelkan di pintu lemari dan jari telunjuknya ditempelkan ke cermin, diusap-usapkan naik turun, kiri kanan, kadang-kadang membuat lingkaran dengan ujung jari telunjuknya berulang-ulang. Sesekali dihapus dengan telapak tangannya yang basah air mata. Hikmah mengusapkan jari telunjuknya lagi ke cermin lalu membuat garis horizontal, vertikal, lingkaran kemudian dihapus lagi dan seterusnya.

Sesekali duduk di atas kasur yang berada di depan cermin lemari. Memandangi dirinya, memandangi satu persatu setiap benda yang tampak dari cermin. Sesekali melongok keluar dari jendela kamar yang terbuka, iri melihat teman-temannya yang asyik bermain, kemudian duduk kembali, melongok lagi dan duduk di samping lemari.

Aku, salah satu kakaknya, yang sama-sama tahu watak Hikmah terus mengutuki bulik yang baru saja membuat Hikmah tertekan, tekanan batin yang sangat hebat. Aku membuntutinya. Aku mengintipnya dari langse yang sudah sedikit berlubang. Aku tidak berani masuk. Hikmah pasti akan lebih terisak kalau aku masuk. Hikmah juga tidak berani keluar.

Biasanya dua hari dia tidak berani keluar untuk bermain. Kalaupun keluar pasti lewat pintu belakang, itupun harus menghindar dari pandangan tante yang rumahnya bersebelahan hanya beberapa meter saja.

Aku terus mengutuki bulik setiap kali mengingat kejadian yang sudah ia lakukan kepada Hikmah.

Lagi pula, anak kecil mana yang tidak tertekan, tidak takut, dan nurut karena terpaksa kalau digeretak, diancam setiap kali memerintah, tidak boleh main ke rumah dan tidak boleh menonton TV? Aku terus mengutuki bulik, ya bulik-ku sendiri, masa bodoh, dia sudah berbuat bodoh kepada Adikku, satu-satunya adik yang aku sayangi, aku kasihani dan aku kagumi.

Coba saja bayangkan, anak kecil yang belum tahu apa-apa. Anak kecil yang masih renta perasaannya, anak kecil yang baru berusia  enam tahun, di bentak ketika sedang asyik bermain. Apakah ini tidak bisa dikatakan sebagai diskriminasi terhadap anak kecil? Apakah tidak dikatakan sebagai pemutus kreatifitas anak kecil? Apakah aku tidak pantas mengutuki bulik-ku yang tidak tahu diri itu?

Perasaannya sama dengan perasaanku. Wataknya sama dengan watakku. Hikmah dan aku sama-sama dilahirkan hari Senin Kliwon. Berdasarkan hitungan orang-orang Jawa dulu, termasuk kakek saya,

\”Wong sing lahire dina Senen Kliwon biasane kupinge tipis, ora kena kesinggung setitik. Penyakit sing dirasakena biasane panastis”

Artinya orang yang lahirnya hari Senin Kliwon biasanya telinganya tipis, tidak boleh tersinggung sedikitpun. Penyakit yang biasa dirasakan adalah panastis (panas dingin). Mungkin itu hanya sekedar mitos. Tapi kadang-kadang benar. Orang Jawa memang terkenal dengan kejawen dan mitos-mitosnya. Walaupun ketika dianalisa banyak yang tidak masuk akal.

\”Ini Lik!” sahut Mbak Nur sambil memberikan sapu lidi ke bulik..

Mbak Nur seakan tidak peduli dengan tekanan yang sedang dirasakan Hikmah. Dianggapnya sudah biasa dan memang sudah terbiasa. Tapi aku. Aku tidak akan membiarkan adikku terus tertekan seperti sekarang ini. Sedikit banyaknya aku tahu perkembangan intelegence anak, mulai dari lahir sampai dewasa. Bagaimana mungkin Anak sekecil Hikmah, yang sudah biasa menelan geretakan-geretakan keras, mau berkembang dengan sempurna?

Benar-benar bodoh dia. Bulik  bodoh!. Tidak bisa memerintah dengan cara baik-baik apa? Batinku selalu ingin mengatakan hal yang sama. Buli  bodoh!

Amarahku masih menyala. Ibuku pulang, menjumpaiku sedang berdiri melongok, mengintip dari depan pintu kamarnya. Aku duduk di kasur depan pintu  kamar ibu. Aku hanya berkata mengisyaratkan \”Bu, Hikmah!”. Ibu paham maksud perkataanku.

\”Kenapa?” sela Ibu tanpa suara.

Ibu masuk, melihat Hikmah yang sedang dempes, mojok di pinggir lemari kamar sendirian.

\”Heh, Cah ayu lagi apa?” Sapa Ibu dengan nada khas kasih sayangnya.

Hikmah menatap Ibu, Hikmah masih terdiam. Ibu mengeluarkan buah jeruk kesukaan Hikmah dan memberikannya. Hikmah meraihnya. Mukanya masih cemberut kecut. Hatiku terenyuh. Mataku mengeluarkan air mata tanpa kusadari.

Comments are closed.