silakhudin

Nasihat

\”Assalamu\’alaikum!” sapa Kyai Hanif setelah turun dari sepeda tuanya.

\”Wa\’alaikum salam!”

Pak Badrun yang sedang mengasah mata sugu _alat untuk menghaluskan kayu, orang di desaku menyebutnya_ terpaksa harus menghentikan asahannya setelah mendengar uluk salam Kyai Hanif yang berpakaian khas orang tua, bercelana model kuno, berkemeja batik motif tua, peci hitam yang sudah kemerah-merahan, mungkin sering terkena panas matahari atau karena terlalu sering kehujanan dan sandal lily model tua warna biru mengkilat.

\”Eh!” sambil mengangkat badan pak Badrun menyapa dengan nada khas orang Balapulang.

Mereka kelihatan sangat akrab, menyapa sambil berjabat tangan erat, saling melemparkan senyum, mempersilakan masuk dan mempersilakan duduk dikursi sudut warna coklat tuanya.

Dari balik korden pintu tengah yang sudah rusak, bu Indun _istri pak Badrun_ mengintip, ingin tahu siapa yang datang. Sebenarnya satu mata bisa kelihatan dari luar, hanya saja Kyai Hanif tidak sempat melihatnya, tetapi ruang kosong dan sederetan kursi sudut warna coklat _yang diduduki Kyai Hanif_ serta meja setengah lingkaran yang dipasang serasi dengan motiv sudut, melihatnya. Termasuk pak Badrun sendiri.

\”Siapa sih, yang mertamu!” gumamnya dari balik korden

Ini yang kedua kalinya Kyai Hanif datang ke rumah pak Badrun, yang sama-sama sudah paruh baya, hanya saja Kyai Hanif berusia empat tahun lebih tua darinya.

Dia sering dihadapkan dengan masalah-masalah yang tidak pernah ditemukan di pesantrennya dulu. Berpikir ke arahsanasaja tidak pernah, apalagi sampai berusaha mengatasinya. Dia merasa kalah jauh dengan pengalaman yang dimiliki pak Badrun, yang hanya tukang kayu biasa. Tidak pernah sekolah apalagi hidup di pesantren. Itu sebabnya Kyai Hanif sering datang ke desanya dan bertamu untuk bertukar pikiran dan minta nasihat kepadanya.

Memang, waktunya tidak tepat. Kyai Hanif bertamu ketika matahari masih mengulurkan bayang-bayang pohon mangga kecil yang berada di depan rumahnya dua kali lipat ke arah Barat. Istri pak Badrun pun harus menggerutu lagi, karena tidak mungkin suaminya meninggalkan Kyai Hanif _yang datang dari desa sebelah_ begitu saja. Pekerjaan yang baru saja mau dimulai pasti akan ditanggalkannya lagi.

Bagi pak Badrun tidak ada masalah, karena dia suka ngobrol dan sering menanggalkan pekerjaannya. Tapi bagi istrinya, bu Indun, kedatangannya merupakan masalah besar.

Bu Indun hanya ingat kepada dua anaknya yang sedang dipesantrenkan sambil sekolah di Bumiayu. \”Bagaimana keadaannya sekarang? Bagaimana keadaannya kalau bapaknya terus-terusan seperti ini? siapa yang akan mengirimkan bustelan, siapa yang akan memberikanweselkalau bukan bapaknya? Uang dari mana?” katanya menggerutu.

Pikiran bu Indun sering terbang, jauh ke awan-awan. Khayalannya sering menyambar-nyambar sampai ke Bumiayu, seperti satelit, yang setiap saat bisa menyaksikan keadaan anaknya. Bahkan sering menyaksikan dengan mata kepala sendiri kalau anaknya sedang menanti kedatangan bapaknya, menunggu bustelan, membawa bekal untuk satu bulan, makan bersama orang tuanya seperti santri yang lain. Tapi sayang, itu semua hanya ada dalam khayalannya saja.

\”Siapa si Pak?” tanyanya ketika suaminya masuk mengambil bungkus rokok yang hanya tinggal tiga batang, pura-pura tidak tahu.

\”Kyai Hanif!” jawabnya enteng.

\”Mau apa sih!” tanyanya lebih lanjut mengintrogasi pelan-pelan sambil mengkerutkan keningnya, sehingga tampak bergaris-garis vertikal

\”Jam segini mertamu/…” tambahnya menggerutu.

\”Dia itu Kyai!” jawab pak Badrun pelan-pelan juga, malu kalau sampai terdengar Kyai Hanif. Tentunya dengan nada yang tidak asing lagi ditelinga bu Indun, seakan sudah tidak mempan intonasi yang seperti ini, sudah terlalu biasa.

\”Masa ada Kyai mertamu lalu kita usir! Tidak mempersilakannya masuk! Disuruh pergi begitu saja. Mau ditaruh dimana muka kita, hormat kita mana sama Kyai?” jelasnya kepada bu Indun.

\”Dia datang, pasti ada sesuatu, ada keperluan sama kita!” jelasnya lebih lanjut.

\”Baru mau kerja, ngobrol lagi!” pertanyaan ini sering keluar dari mulut bu Indun, telinga pak Badrun pun sudah kebal mendengarnya, apalagi pintu tengah dan ruangan tengah, semuanya sering merekam percakapan-percakapan yang tidak sehat, mungkin bosan mendengarnya.

\”Sudah, tenang! Satu minggu jadi satu! Jangan khawatir!” janjinya meyakinkan, kalimat inipun sering terlontar dari mulut pak Badrun. Kadang-kadang  benar, kadang-kadang juga tidak.

\”Sudah, sanabikin unjukan!” percakapannya tidak dimasukkan ke dalam hati, sudah dianggap biasa, sebentar lagi juga reda. Pak Badrun langsung kembali ke ruang tamu, bu Indun pun membuatkan minuman pesananan pak Badrun.

\”Tumben, main ke sini?” sambil menyodorkan bungkus rokok yang hanya tinggal tiga batang, diletakkan di atas meja setengah lingkaran yang berada di depannya.

\”Lah, biasa…” jawabnya enteng sambil menatapkan pandangannya kearah pak Badrun, pandangan yang menyiratkan segumpal masalah. Pak Badrun pun tahu dan menebaknya begitu. Pak Badrun sudah terbiasa berhadapan dengan banyak orang yang berbeda latar belakang. Sering bertanya dan bergaul dengan Kyai bahkan Dosen sekalipun pernah diancamnya, ketika Ijazah anak pertamnya tidak beres dan tanda tangannya dipalsukan. Padahal dia tidak pernah mengenyam pendidikan formal, paling lulusan MI itupun di desa, tapi rasa ingin tahunya justru yang menyebabkan dikenal oleh banyak orang..

Memang bukan jaminan, orang yang berpendidikan tinggi bisa berkumpul dengan orang yang berpendidikan dan berkumpul dengan orang berkerah putih. Nyatanya banyak dijumpai Sarjana yang masih nganggur. Hanya terdiam di pojok rumah, tidak optimis, pesimis dengan keadaan dunia kerja yang nyata, padahal sebenarnya Ijazah SI yang disandangnya bisa membuat masa depannya cerah. Tapi memang dunia adalah kenyataan bukan sekedar hayalan yang hanya bisa dibayangkan.

\”Monggo, Pak Kyai” ucap bu Indun

\”Enggih, Matur suwun, Bu”

Panjang lebar Kyai Hanif menceritakan masalah yang dibawanya dari rumah. Pak Badrun hanya mendengarkan, karena bukan dia yang mempunyai kepentingan, Kyai Hanif yang mempunyai kepentingan, dia yang ingin bertukar pikiran, minta pendapat pak Badrun setelah dulu bisa menyelesaikan konfliknya dengan masyarakat. Sekarang Kyai Hanif meminta kepada pak Badrun untuk bisa memberi solusi supaya dia bisa menyelesaikan masalah yang sekarang sedang dihadapinya.

Pak Badrun masih tetap terdiam.

\”Sudah, pokoknya sekarang Panjenengan jangan nolak! Apapun yang keluar dari mulut Panjenengan saya terima!” Kyai Hanif memaksa, jangan-jangan pak Badrun tidak mau seperti dulu, ketika pertama kali dimintai pendapat untuk menyelesaikan masalahnya yang pertama dengan masyarakat, dia suka merendah.

Awalnya pak Badrun tidak mau mengeluarkan pendapatnya, dia merasa tidak pantas, apalagi menasihati Kyai, dia hanya orang biasa, tidak pernah punya pengalaman terjun di masyarakat, apalagi masyarakatnya, masyarakat Kyai Hanif.

Sebenarnya pak Badrun bingung dengan apa yang telah disampaikannya. Kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu menjadi pertimbangan Kyai Hanif untuk menyelesaikan setiap masalah yang sedang dihadapinya. Padahal dia tidak pernah mondok di pesantren seperti Kyai Hanif. Dia hanya murid dari Kyai yang dulu pernah berjuang melawan penjajah, di desanya, Kyai Qomar orang menyebutnya. Dan karena ketegasannya beliau sangat dikenal dan disegani oleh masyarakat.

\”Bocah bodoh, dimintai pendapat!” cletuk orang tua tiba-tiba, \”Kakek”, anak-anak pak Badrun memanggilnya, Man Muh tetangganya memanggil, yang didak pernah sekolah dan merasa dulu tidak pernah menyekolahkan pak Badrun ketika masih kecil.

Man Muh duduk di dekat Kyai Hanif, posisinya pas di depan pak Badrun, anaknya, menyaksikan anak yang dulu tidak pernah disekolahkan ternyata bisa lancar berbahasa Indonesia, rinci memberikan penjelasan, sesuai urutan dan enak didengar. Kyai Hanif juga tidak merasa kaget, ketika cletuk suara orang tua itu terdengar di telinganya, Kyai Hanif tahu kalau dia adalah orang tua pak Badrun, dia asli orang Pamiritan, satu desa dengan Kyai Hanif.

\”Ini guru saya, Man!” katanya sambil meringis, dengan isyarat tangan membaikot pak Badrun sebagai guru Kyai Hanif. Bukan hanya Kyai Hanif yang bangga, sebenarnya Man Muh, ayahnya, juga bangga, punya anak seperti pak Badrun, sering memecahkan masalah keluarga, tapi kanan kiri tidak ada yang tahu, patuh kepada orang tua, walaupun dia juga sudah menjadi orang tua dari anak-anaknya.

Ketika orang tua bilang \”Jangan”, maka pak Badrun menganggapnya sebagai larangan, tidak berani melanggar, dan ketika orang tua bilang \”Ya” maka pak Badrun pun menganggapnya sebagai kewajiban yang harus dipenuhi. Bu Indun juga kadang-kadang merasa kasihan melihat suaminya sering sibuk dengan urusan orang tuanya.

Dia hanya berbagi cerita kepada istrinya ketika sedang beristirahat, sambil makan dan minum teh manis hangat yang sengaja disediakan untuk suaminya, sehabis sholat Maghrib. Kadang-kadang anak-anaknya juga ikut mendengarkan, tapi namanya juga anak-anak, walaupun sudah besar tapi tidak tahu apa yang harus diperbuat untuk membantu masalah-masalah yang diemban oleh orang tuanya.

\”Pak Kyai, Aku tidak pernah berorganisasi, apalagi di kepengurusan Masjid!” ucapnya merendah, tapi memang pak Badrun tidak pernah terjun di organisasi manapun, dia hanya suka ngobrol dan bertanya kalau tidak tahu, bahkan sering bertukar pikiran  dengan anaknya ketika pas liburan, Badruttamam, yang sedang menyelesaikan S I-nya di Bogor. Dia juga hanya tukang kayu yang kebetulan diakui garapannya bagus, banyak mebel lain yang mengakui garapan pak Badrun bagus, kuat dan halus.

\”Panjenengan salah orang Pak Kyai, seharusnya panjenengan minta nasihat atau minta saran kepada orang yang sama-sama pengurus Masjid, atau orang yang biasa berorganisasi, Ustadz Mubarok, Ta\’mir Masjid Al Mujahidin, Ustadz Herun atau sama Kyai Munawar” tambahnya menunjukkan orang yang menurutnya pantas dimintai saran.

\”Panjenengan tahu tidak, sesuatu yang ada disungai belum tentu ada di segara!” rupanya Kyai Hanif sudah menyiapkan jawaban atas penolakan pak Badrun, dari rumah sudah menebak kalau pak Badrun pasti beralasan lagi, tidak mau memberikan saran, harus dipaksa.

\”Sudah, pokoknya apa saja yang keluar dari mulut Panjenengan, aku dengar dan aku terima” tambahnya mengulangi dan mempertegas ungkapannya yang pertama.

\”Ya Allah, apasih kelebihan saya” ucap pak Badrun membatin. \”Adaapa dengan Kyai Hanif, ko bisa percaya, ngebet pingin mendengarkan saran dari saya” tambahnya membatin, tidak percaya kalau dirinya dipercayai oleh Kyai Hanif bisa menyelesaikan masalahnya.

\”Masalahnya sama, dulu masalahnya dengan orang lain, tapi sekarang masalahnya dengan mertua saya sendiri. Mertua saya merasa tersaingi dengan apa yang saya sampaikan di Masjid. Ketika saya yang mengisi maka banyak masyarakat yang hadir, tapi giliran Mertua saya yang mengisi, paling-paling hanya setengahnya saja yang hadir. Saya disindir habis-habisan setelah mertua saya merasa dirinya tersaingi, banyak yang tidak suka dengan ceramahnya, dia menuduh saya telah berbuat curang, padahal buat apa?” jelasnya mengulangi kronologi masalah yang sedang dihadapi, karena pak Badrun sudah beralasan dan melempar pertanyaan masalah Kyai Hanif kepada orang lain.

Ketika dihadapi masalah dan pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya susah, yang ada dibenak hati pak Badrun adalah mengingat Kyainya, Kyai Qomar, berdoa untuk keselamatannya disana, semoga diterima disisnya. Biasanya setelah mengirim doa untuk keselamatannya, entah kenapa seolah pak Badrun mendapatkan ilham. Kadang-kadang secara tiba-tiba dia ingat dengan apa yang sudah diajarkan kepadanya,gayabicaranya, nadanya, gerak tangannya dan sorot matanya yang mengalahkan pandangan murid-muridnya, seolah-olah pak Badrun mengulangi lagi belajar kepada Kyai Qomar.

\”Mungkin begini, Pak Kyai pernah nonton gambus?”

\”Ya, pernah”

\”Alat musik apa saja yang digunakan?” tanyanya mengetes \”Alat yang digunakan adalah gendang, seruling, gitar gambus, biola, kicik dan sebagainya. Bunyi gendang berbeda dengan bunyi seruling, bunyi seruling berbeda dengan bunyi gitar gambus, biola dan kicik juga berbeda, tapi kenapa ketika dibunyikan bersama menghasilkan irama yang enak, bahkan tanpa sadar kita ingin joged?” rupanya pak Badrun mengibaratkan kehidupan seperti musik gambus.

\”Siapa yang peduli dengan bunyi kicik?” tambahnya lagi menanya.

Kyai Hanif tertegun, \”Apa lagi yang sedang dikatakan oleh pak Badrun, kenapa tiba-tiba orkes gambus?” batinnnya bertanya, masih belum faham dengan apa yang diucapkan pak Badrun. Dan berusaha menebak ibarat yang dilontarkan, tapi tidak ketemu juga.

Pak Badrun tidak ingin mendikte Kyai Hanif, biar dia sendiri yang menyimpulkan bagaimana dia harus berbuat. Begitu juga dengan masalah pertama yang sudah terselesaikan, tapi dulu. Pak Badrun hanya memberi ibarat, tidak ingin menggurui dan rupanya inilah yang disukai Kyai Hanif dari pak Badrun, kenapa dia tidak bertukar pikiran dengan orang lain, dia lebih memilih bertukar pikiran dengan pak Badrun yang hanya orang biasa.

Sementara orang tua yang duduk disamping Kyai Hanif hanya bisa tersenyum, tapi di dalam hati, terlihat dari matanya yang mengecil sipit berkerut dan merapatkan kedua bibirnya, mengekspresikan hati bangga menyaksikan anaknya yang bijak. Orang tua itu paham dengan apa yang diucapkan anaknya dan orang tua itu juga tidak percaya kalau yang sedang ngomong adalah anaknya, anak yang tidak pernah disekolahkan.

\”Dari mana dia mendapat kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya, bagaimana mungkin dia bisa menghubungkan masalah-masalah ini dengan orkes gambus?” ucapnya membatin heran.

\”Memang bunyi yang paling menonjol adalah gendang, tidak ada yang peduli dengan bunyi kicik. Siapa yang memperhatikan dan peduli dengan bunyi yang dihasilkan dari kicik? semuanya tidak ada yang peduli, tapi ketika bunyi kecik itu dihentikan maka akan terasa sumbang dan tidak menarik. Itulah orkes gambus”. Jelasnya lebih lanjut.

Orang tua yang duduk di samping Kyai Hanif semakin bangga mendengarkan penjelasannya lebih runtut dengan bahasa Indonesia yang lancar dan enak didengar, \”Seperti yang di Tivi-Tivi” gumamnya membatin. Tapi belum juga membuka pikiran Kyai Hanif untuk bisa menyimpulkan maksud ibarat pak Badrun.

Kyai Hanif tidak pernah mendengarkan yang seperti ini sebelumnya.

Pak Badrun terpaksa harus menjelaskan maksud perkataannya kepada Kyai Hanif \”Walaupun beda apa yang disampaikan, tapi kalau sesuai dengan aturan dan tidak saling menonjolkan diri,….”

\”Cukup. Ya, ya!” cegat Kyai Hanif memotong penjelasan pak Badrun.

Comments are closed.