silakhudin

Potret Ibu

Setiap hari hanya bisa Aku lewati bangunan-bangunan tua yang terpampang melalui kaca jendela angkutan desa, setelah menyaksikan persawahan yang sekarang sedang tidak enak dipandang, tanahnya yang retak-retak, jerami-jerami kering yang menumpuk dan sudah memutih. Begitu juga dengan gundukan-gundukan jerami hitam yang masih mengeluarkan asap. Semuanya hanya bisa Aku saksikan melalui kaca jendela angkutan desa yang sedikit terbuka.

Rajek-rajek bambu kering yang mengelilingi bangunan tua sebelah kiri jalan juga roboh berantakan, menimpa rumput-rumput liar yang mengelilingi bangunan tua yang dindingnya tampak gompalan-gompalan membentuk peta, mirip seperti peta Indonesia, terpisah-pisah dan memanjang.

Sepertinya halaman depan bangunan tua itu juga kotor tidak terawat. Banyak anak-anak kecil berseragam merah putih, berkulit busik, berambut acak-acakan dan memerah khas tersemir sinar matahari. Mereka bermainan dan menarik satu-persatu rajek bambu yang sudah roboh untuk main pedang-pedangan, dan  memukul-mukulkan pedang-pedangannya ke gompalan dinding yang membentuk peta Indonesia itu setelah lawannya kalah, sambil bersorak-sorak lantas mengacungkan pedang-pedangannya ke atas.

\”Hore, hore, hore…!”

\”Ya Allah…” Aku hanya bisa membatin di dalam angkutan desa yang sedang melaju pelan-pelan. Bagaimana mungkin bisa melaju dengan cepat, sementara pak sopir harus memilih jalan yang halus dan tidak berlubang supaya penumpang tetap nyaman dan tenang. Seperti sungai di musim kemarau, kehabisan air, banyak batu berserakan menonjol keluar dan berbagai bentuk lubang _dengan ukuran yang  bermacam-macam _ di kanan kiri.

Awalnya Aku seperti pejabat yang sedang meninjau keadaan desa yang jauh dari kota, berpakaian putih, bersih, badan masih segar, wajah yang masih segar, bersih, otak masih fres dan sisiran rambutku juga masih rapi khas sisiran SBY. Tapi sayang hanya beberapa menit, lama kelamaan aku merasa seperti bakul ayam, mukaku kecut, kusam, kusut, baju dalamku juga basah karena harus menyerap keringat yang terus bercucuran, dan dahiku banjir penuh keringat yang keluar dari setiap pori-pori dari kulit wajahku. Bukan hanya itu, hidungku juga menjadi tempat genangan keringat yang tidak pernah menetes, dan rambutku, aku benar-benar seperti orang yang sedang frustasi berat, secuil demi secuil dari rambutku memisahkan diri dari arah sisiran, tertiup angin yang masuk melalui jendela angkut yang sedikit terbuka, bercampur debu, ditambah dengan tanganku yang tidak sabaran..

Angin sawah yang bertiup kencang ke arah yang berlawanan benar-benar sempat membawa angan para penumpang ke padang pasir. Debu-debu yang ramai beterbangan mengepul menyelimuti kaca depan, kemudian berhembus masuk ke dalam angkut melalui jendela-jendela yang sedikit terbuka. Itu pasti. Setiap kali jalan yang berlubang itu dilalui putaran roda yang melintas, gerombolan angin campur debu mendadak menampar muka kaca angkot, dan tanpa dipersilahkan masuk ke dalam. Padahal jendela itu sedikit dibuka bukan untuk mempersilakan debu yang menjengkelkan dan mengotori ibu-ibu penumpang dan bajuku, tapi untuk pergantian udara yang panas.

Sebenarnya aku sudah tidak tahan lama-lama berada di dalam angkut, tapi kalau keluar, itu tidak mungkin aku lakukan.

Tangan Ibu-ibu di sekelilingku aktif mengibas-ngibaskan bajunya, termasuk aku, tapi aku tidak begitu menggebu-gebu.

Hampir semuanya ibu-ibu, kacuali aku. Aku berlagak tidak terpengaruh dengan keadaan seperti ini, tapi hatiku, kenapa hatiku tiba-tiba jengkel?

Perjalanan yang menyebalkan. Perasaan ini timbul setiap kali Aku naik angkut bercat kuning ini, dan tampaknya kali ini bukan hanya Aku yang kesal, ibu-ibu yang berada di sampingku juga banyak yang menggerutu kesal. Bertahun-tahun jalan rusak tapi tidak ada yang memperhatikan. Memaki lurah lama yang tidak menepati janjinya dan menagih janji-janji lurah yang sudah setahun kurang sembilan hari menjabat. Tapi sayang, keluhannya tidak di dengar oleh para pejabat desa, hanya bisa di dengar oleh ibu-ibu yang sama-sama suka ngrumpi.

Sedangkan aku…

Aku tidak tahu apa-apa soal ini. Aku pendatang yang hanya bisa mendengarkan clotehan-clotehan tidak sehat yang terlontar dari satu per satu mulut ibu-ibu yang berada di dalam angkot. Aku tidak tahu menahu dan tidak mau tahu keadaan desa ini, yang penting aktifitasku berjalan dengan lancar dan sesuai rencana.

Terpikir di benakku saja tidak pernah. Lebih baik aku memikirkan bagaimana caranya supaya ilmuku bertambah, kuliahku tidak terganggu dan pekerjaanku beres. Karena keberadaanku sama saja dengan ketidakberadaanku, adanya seperti tidak adanya. Sekali lagi kukatakan, aku hanya pendatang, tidak ada yang kenal denganku kecuali teman-temanku yang sama-sama pendatang.

Seketika angkot melaju lambat kemudian berhenti. Ibu-ibu yang sedang ngobrolpun seketika berhenti, keadaan menjadi tenang beberapa pasang mata _di antaranya aku_ melihat tiga penumpang yang salah satu diantara mereka membawa gitar, kelihatannya gitar itu buatan sendiri, jelek, senarnyapun menggunakan karet hitam yang biasa dipakai untuk ikat pinggang celana kolor, kayunya tidak halus dan tidak berwarna, kelihatannya made in sendiri. Semua penumpang menebaknya pengamen, begitu juga dengan aku.

Satu diantara mereka berusia paruh baya, dia normal,  begitu juga dengan temannya yang matanya selalu dihadapkan ke atas, kelihatannya tidak bisa melihat walaupun matanya selalu terbuka, dan yang satu adalah bocah perempuan kecil berbaju pink bawahan pendek dan bercaping atas terbuka. Saya mengira-ngira kalau anak itu baru berusia sekitar lima atau enam tahun. Gemuk, kulitnya matang, rambutnya ikal merah khas tersemir matahari, hanya satu yang masih kelihatan bersih, matanya.

Mereka duduk dikursi samping pintu sedangkan bocah kecil perempuan itu dipangku oleh laki-laki paruh baya yang normal, pas di depanku. Keadaan masih tetap tenang, semua mulut terdiam, dan semua mata tertuju pada tiga penumpang yang baru saja naik. Semua penumpang menyisirkan matanya ke arah mereka, satu persatu. Mata laki-laki paruh baya yang normal itu tidak tentu pandangannya, serba salah, tidak kuat menanggung semua tatapan penumpang yang kebanyakan ibu-ibu. Aku pura-pura tidak sedang melihatinya ketika mata orang itu sedikit dilemparkan ke pandanganku.

Dia merogoh saku dengan tangan kanannya, mungkin untuk mengurangi perasaannya yang tidak menentu itu, kemudian mengeluarkan receh yang kelihatannya semua bernominal seratus atau dua ratus rupiah dan menghitungnya. Mulutnya komat-kamit menghitung. Mata, mulut dan hatiku juga ikut bekerja sama untuk menjumlah, begitu juga dengan penumpang-penumpang lain. Yang jelas aku tidak tahu pasti jumlahnya, hanya bisa mengira-ngira. Hanya beberapa persen saja dari penghasilanku yang hanya duduk manis di perpustakaan.

Receh dimasukkan kembali ke saku setelah menyisakan satu tumpuk di tangan kirinya.

\”Hasil dari ngamen berapa?” kataku membatin. \”Untuk bayar angkot saja sudah habis, kira-kira sisanya berapa?” tanyaku lebih lanjut membatin. Mungkin semua penumpang juga bertanya seperti itu.

Bocah kecil itu tidak merasakan apapun seperti yang dirasakan dua temannya. Dia masih belum tahu dan masih tidak peduli walaupun banyak pasang mata memandanginya dan memperhatikan. Dengan PD-nya  bocah perempuan kecil itu menyanyikan lagu \”Kucing Garong” dengan suara lirih dan gerakan yang lincah, mulutnyapun sengaja dibuat-buat, seperti orang dewasa. Sesekali laki-laki paruh baya normal itu melarangnya, bocah kecil itupun berhenti. Tapi tidak lama kemudian bocah kecil itu pun menyanyi lagi dengan lagu yang sama dan suara yang lirih pula serta gaya yang sama pula.

Aku teringat dengan keponakanku yang baru berusia tiga tahun tapi sudah bisa membaca doa mau tidur setiap mau tidur dan doa mau makan setiap mau makan. Kakakku selalu mengajarinya dan selalu memandunya setiap kali mau makan dan mau tidur. Tapi bocah kecil ini, yang sekarang berada di depan saya, sudah bisa menyanyikan lagu kucing garong. Lagu yang sebenarnya hanya pantas dinyanyikan oleh orang dewasa, tapi bocah ini sudah menghafal lagu yang bukan untuk ukuran anak kecil, nada dan gayanyapun tidak kalah jauh dengan orang yang sudah dewasa.

Sesekali Aku memandangi satu persatu tiga penumpang yang kelihatannya pengemen itu, yang dilihat dari cara bicaranya mereka adalah orang Tegal atau orang Brebes. Aku tahu itu, karena aku juga mempunyai banyak teman kuliah yang berasal dari dua daerah itu. Tapi ketika pengamen itu mengarahkan pandangannya ke arah mataku, maka aku pura-pura tidak sedang melihatinya, pandangan aku alihkan ke bocah perempuan kecil yang sedang menyanyi itu.

Melihat tiga pengamen yang berbaju kusut itu, perasaanku kembali seperti semula,  seperti pejabat yang sedang melihat rakyat kecil, walaupun duit yang ada di sakuku hanya cukup untuk membayar angkot ini dan angkot ketika pulang, walaupun muka dan rambutku sudah berantakan, karena tidak kuasa menahan panas dan angin yang terus bertiup kencang di dalam angkot. Angkot yang tidak hanya menaikkan penumpang, tapi mempersilahkan debu-debu yang beterbangan dan menjengkelkan.

Rasa iba yang bersemayam di dadaku maju mundur bersamaan dengan tanganku yang ragu, antara memberikan duit yang hanya pas-pasan ini atau membiarkan begitu saja tiga pengamen yang duduk di depanku.

\”Pasti mereka sangat senang kalau aku kasih duit ini?” ucapku membatin \”Tapi….”

Rupanya antara ucapan dan perasaanku berlawanan. Hatiku mengatakan dan ingin memberikan duit yang hanya tinggal lima ribu dan masih berada di saku celanaku, kemudian aku pinjam kepada temanku untuk ongkos pulang. Tapi perasaanku tidak enak kalau tiba-tiba memberikan duit yang hanya pas-pasan dan masih berada di sakuku. Aku takut pengamen itu tersinggung. Aku juga malu kepada penumpang lain yang hampir semuanya ibu-ibu, jangan-jangan mereka mengataiku royal, walaupun sebenarnya anggapan seperti itu hanya perasaanku saja.

Comments are closed.