silakhudin

Salahkah…?

Malam sabtu itu tidak seperti malam Sabtu yang pernah Harjito lewati. Hujan deras membuatnya terkurung di ruang kerja. Petir menjilat-jilat langit di sela-sela gumpalan awan hitam yang padat menggumpal. Sesekali tampak cahaya berkilatan seperti cahaya kamera di horizon sebelah Barat. Harjito tidak bisa mengelak untuk tidak meninggalkan ruang kerjanya. Keadaanlah yang tidak memungkinkan. Dia hanya bisa meraba istri dan kedua anak perempuannya yang masih kecil dari kejauhan, melalui kaca jendela ruang kerja yang terkena sedikit kucuran air hujan dari luar.

Suara tangis kedua anak Harjito terniang di telinganya, ketakutan. Rintihan dan desis nafas Imah _ibu kedua anaknya_ pun terdengar mendesis di telinga Harjito. Entahlah, ini benar-benar suara anaknya yang menangis dan desis rintihan Imah yang sedang ketakutan, ataukah hanya ilusi yang terbawa oleh hempasan angin malam yang masuk melalui tiga lubang angin yang menyertai derasnya hujan.

Sesaat demi sesaat Harjito lalui dengan memandang jam dinding kuno yang menempel tepat di atas jendela. Kehawatiran yang dirasakannya menyatu dengan suasana dingin yang dihembuskan angin yang menyertai derasnya hujan. Sesekali duduk, sesekali berdiri. Sesekali memandang keluar, memandang horizon hitam yang berkilatan cahaya dari balik jendela, kemudian mondar-mandir sambil menanggung kegelisahan yang sedang dirasakan.

*** *** ***

\”Ma..maaa…” tangis anaknya memanggil ketika sesekali petir menjilat menyambar-nyambar. Tak terasa Imah juga merasakan hal yang sama, takut dan gelisah ketika mendengar tangisan anak yang tidak berdosa merengek memanggil-manggil kata Mama. Khas rengekan anak kecil yang sedang ketakutan.

Perasaan Imah semakin tidak karuan mendengar rintihan anaknya memanggil \”bapak”. Benar-benar membuatnya gelisah. Suami tidak ada di sampingnya dikala sedang membutuhkan perlindungan, secercah harapan dan dukungan.

Beberapa cara sudah Imah lakukan untuk sekedar menghilangkan ketakutan dan kecemasan. Termasuk membayangkan suaminya berada di rumah, berada di sampingnya, memberikan dukungan dan menemani, tapi semuanya tidak mempan. Semuanya sia-sia. Tidak hilang juga rasa takut dan gelisah yang terus menyelimuti hatinya.

\”St..st…! tenang, Yah?”

Sambil menggendong Afiyah, Imah juga berusaha menghentikan rengek Nani, anak pertamanya. Semakin Nani menangis maka semakin takut dan gelisah pula kecemasan Imah yang sekarang sedang dirasanya, apalagi ditambah rengekan Afiyah yang belum tahu apa-apa.

Imah kembali berusaha menenangkan diri dan menenangkan kedua anak perempuannya yang masih kecil, masih renta dan asing terhadap sesuatu yang belum pernah diterimanya. Apalagi sesuatu yang mengagetkan. Petir yang menyambar-nyambar _yang disertai dengan cahaya berkilatan_ sering membuatnya kaget dan gentar.

Sebenarnya Harjito juga merasakan hal yang sama. Bosan, terkurung di ruang kerja. Tidak ada hiburan, tidak ada anak dan istri yang seharusnya menemani dan menjadi hiburan. Sejak pagi Harjito penat dengan pekerjaannya yang menumpuk. Giliran istirahat, waktunya berkumpul dengan istri dan anak-anak, apalagi hari-hari dan suasana seperti ini, benar-benar tidak bersahabat, Harjito harus menanggungnya seorang diri. Sungguh menjenuhkan.

Harjito menjatuhkan badannya di kursi kerja, menyandarkan kepalanya di atas sandaran kursi, seolah pasrah dengan keadaannya yang tidak menentu itu. Matanya mulai terpejam. Dua ekor nyamuk menari-nari di atas wajah kecutnya. Harjito membuka matanya kemudian menyambarkan tangannya. Dua ekor nyamuk menghindar. Harjito memejamkan matanya kembali. Dua ekor nyamuk pun kembali menari-nari kemudian hinggap di keningnya tanpa ia sadari.

* * *

Pukul sepuluh kurang sebelas hujan mulai reda. Harjito terbangun dari tidurnya. Harjito tidak melewati kegelisahan seperti yang dirasakan istri dan kedua anaknya di rumah. Setidaknya dia sudah melepas lelahnya barang beberapa jam. Tapi Imah, dia benar-benar menjalani kegelisahannya selama beberapa jam. Dari mulai hujan turun, mati lampu, sampai hujan mulai reda.

Beberapa menit kemudian Harjito benar-benar sadar. Setidaknya sudah bisa mengingat pekerjaannya dari pagi hingga sekarang setelah beberapa menit terbengong di kursi kerja. Harjito menjumpai dirinya masih berada di kursi kerja. Kemudian …..

\”Imah!” gumamnya mengingat istrinya yang sedang sendirian mengurus dua anak perempuannya.

Tanpa pikir panjang Harjito mengambil jaket kulit warna coklat yang disampirkan di kastok belakang pintu ruang kerja, lantas langsung bergegas meninggalkan ruangan. Harjito tidak sadar kalau ada sesuatu yang tertinggal di ruang kerjanya. Harjito baru terasa sesampainya di depan garasi tempat parkir kendaraan karyawan.

Harjito kembali ke ruang kerja. Mencari kontak motor yang tertinggal. Berulang kali Harjito meraba-raba saku jaket dan saku celananya setelah tidak menemukan di tempat yang lain. Tapi nasib baik sekarang sedang berpihak kepada Harjito, tidak lama setelah menggeledah beberapa laci akhirnya ketemu juga. Ternyata tertinggal di laci meja kecil yang berada di samping kanan meja kerja Harjito. Harjito langsung bergegas pergi menemui Imah yang sudah beberapa jam sendirian menanggung kegelisahan.

Hatinya tidak tenang. Laju kendaraan yang dikenakan cukup cepat tidak seperti biasanya. Kegelisahannya menyatu dengan udara dingin serta perasaan yang tidak tenang, disamping harus menghindari setiap tetesan air hujan yang belum reda-reda juga.

Tidak peduli dengan keselamatannya, Harjito semakin menambah gas untuk melaju lebih cepat.

Orang yang tidak sepenuhnya sadar memang sering melakukan tindakan-tindakan bodoh yang tidak biasa dilakukan sebelumnya. Tetapi resiko yang ditanggungnya kecil. Bisa melakukan kebiasaan yang pada umumnya tidak bisa dilakukan dalam posisi sadar. Begitu juga dengan Harjito. Dia melaju dibawah lamunan setengah sadar. Tidak seperti biasanya dia melaju dengan kecepatan penuh seperti itu. Apalagi sambil menyisir hujan yang belum reda ditambah jalan licin, rusak berlubang dan tidak bisa terlihat dengan mata kepala karena gelap dan tergenang air.

Tiga belas kilometer sudah Harjito lalui. Rumahnya sudah terlihat kecil remang-remang dari kejauhan karena terhalang oleh setiap tetesan air hujan yang membasahi kaca helm. Warna dindingnya berubah menjadi kelihatan agak hitam. Nyala lampunya juga kelihatan redup dan mengembang karena terhalang rintik-rintik hujan yang belum reda. Tapi Harjito tidak peduli dengan rumahnya yang seketika berubah. Harjito sudah bisa melihat istri dan anaknya serta merasakan keadaan seisi rumah. Harjito bisa menerawang melalui pikiran dan angan-angannya.

 

***

Tidak seperti biasanya Harjito mengalami hal seburuk ini. Juga tidak biasanya perkiraannya meleset. Baru kali ini Harjito pulang tidak disambut oleh siapapun. Seisi rumah terdiam menyaksikan Imah dan dua anak perempuannya menunggu kehadiran seorang ayah sampai tertidur pulas di ruang tengah yang terbuka. Tapi ketika Harjito mulai membuka pintu, pandangan tajam seisi rumah berpaling ke muka Harjito. Seolah mengadukan penyaksiaannya selama beberapa jam kemdian mengutuki Harjito. Seisi rumah menyaksikan kegelisahan anak dan istrinya, hingga tertidur pulas.

Harjito pun tidak kuat menanggung tatapan seisi rumah yang mengadukan penyaksiannya. Sepertinya semua benda yang menyaksikan kegelisahan Imah mengadukan penyaksiannya dan berkata mengutukiku \”Suami macam apa kau!”

Harjito menjadi merasa serba salah. Geraknya menjadi terbatas, tidak bebas. Setiap gerak dan langkah Harjito perhitungkan. Khawatir mengganggu istri dan kedua ananknya yang tengah pulas. Rasanya akan semakin bersalah kalau sampai Harjito membangunkan tidur mereka.

Harjito hanya bisa duduk dan menatapi mereka dengan pandangan bersalah. Harjito menatapinya satu persatu. Hatinya berkata-kata tapi dia sendiri tidak tahu apa yang ia katakan. Harjito termangu. Melamun. Tapi  tidak jelas apa yang sedang  ada di dalam kepalanya. Kelihatannya Harjito sedang berusaha menghapus rasa bersalahnya.

\”Sungguh tega kalau aku tidur di kamar, sementara anak dan istriku tidur di ruang tengah, terbuka dan kedinginan”. Ucapnya membatin.

Harjito masih tetap duduk di atas tumpukan baju di ruang tengah. Imah belum sempat melipatnya sehingga masih tergeletak di atas kursi penjalin setengah rusak. Serat atasnya sudah putus-putus. Mungkin karena sudah terlalu tua.

\”Kenapa aku harus merasa bersalah? Inikanbukan kemauanku?” gumamnya lagi membatin.

\”Ah, ini hanya perasaanku saja”

\”Tapi…?”

Harjito merasa bersalah dan terus menyalahkan dirinya. Padahal belum tentu dan belum jelas apakah istrinya akan menyalahkannya atau tidak. Tapi di hati Harjito tetap terus terbayang kesalahannya yang belum menentu. Tidak hadir disaat istrinya sedang membutuhkannya.

Harjito terus duduk di kursi penjalin rusak yang berada di samping tempat tidur di ruang tengah. Dia meluruskan kakinya kemudian menyandarkan kepalanya ke dinding setelah melipat tangannya ke dada. Suara jangkrik terdengar semakin nyaring. Kemudian disusul dengan bunyi tungkek yang saling bersautan. Tanpa di rasa, ternyata ayam jantan tetangga pun mulai berkokok membangunkan para tetangga yang lain, diantaranya Harjito.

Dia tertidur.

Dia tidak menyelaminya semenit demi semenit setelah beberapa waktu duduk di kursi penjalin rusak itu. Harjito bingung kenapa dia terbangun. Padahal dia tidak merasa memejamkan matanya.

Tidak lama setelah Harjito tersentak bangun, Imah pun terbangun. Dia menyaksikan Harjito sedang membersihkan matanya yang masih sipit dengan dua jari telunjuknya. Tanpa berkata apa-apa Imah langsung meninggalkan dua anaknya yang masih tertidur. Perasaan Harjito semakin was-was menyaksikan Istrinya yang tidak berkata-kata dan langsung pergi kebelakang. Harjito menyambung prasangkanya yang semalaman selalu menyelimuti hatinya.

Afiayah dan nani yang masih tertidur pulas dipandanginya satu persatu. Posisi keduanya sudah berubah, tapi pipi kiri dan matanya yang terpejam masih kelihatan dari samping.

\”Kamu pasti sudah melupakan kesedihan yang semalaman menyelimuti perasaanmu” kata Harjito sambil menatap Afiyah.

Comments are closed.