silakhudin

Takdir…?

Udara panas masih menyergap kotaBumiayu. Waktu itu orang menyebutnya Istiwa. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Tiang listrik dan plang Bakso Jenggot yang ada di sebelah kanan jalan pun terpaksa menyembunyikan bayangannya, yang kelihatan hanyalah titik kecil dan garis kecil hitam menerawang. Begitu juga dengan mobil truk pak Anwar yang sedang diparkir di depan toko Mulia Jaya setelah mengangkut 10 ton beras ke kota Tegal.

\”Pelan-pelan! Pelan-pelan, Pak, Mas…!” atur pak Kamil, dengan kulit dahi yang sedikit dikerutkan dan mata menyipit, karena tidak kuat menahan sinar matahari yang dipantulkan setiap mobil yang lewat, sambil meniupkan peluit biru bertali kuning yang digantungkan di leher dan melambai-lambaikan tangan kanannya yang tampak hitam terbakar sinar matahari.

Pak Kamil tidak peduli dengan udara panas dan kotor yang sekarang sedang melandakotaBumiayu.

\”Wis, Ini resiko saya! Saya tidak boleh menyia-nyiakan pekerjaan yang sudah dipercayakan kepada saya. Ini resiko!” gumamnya sambil menyelami terik sinar matahari yang mulai mengulurkan sedikit demi sedikit bayangannya ke arah Timur, begitu juga dengan tiang listrik dan plang bakso jenggot yang berada di sebelah kanan jalan.

\”Man!” teriak salah satu gadis kembar, melambaikan tangannya memanggil dokar yang melintas di depan bakso jenggot, Mila dan Meli.

Pak Tali menoleh kemudian menarik kendali untuk menghentikan kudanya yang sedang melaju menarik muatannya. Kemudian menjatuhkan tangga setapak _yang menempel di belakang dokar_ untuk naik.

\”Jembatan, Man” kata Mila.

Pak Tali memecutkan cambuk _yang berada di sebelah kanannya_ ke punggung kuda pelan-pelan sambil mengaba-abai.

\”Ceh-cah, ceh-cah” berulang kali pak Tali mengaba-abai kuda coklatnya untuk melaju.

Aku tidak tahu kuda itu mengeluh apa tidak dipekerjakan seperti itu. Kepanasan ketika panas dan kehujanan ketika hujan. Harus dicambuk setiap kali harus melaju dan melaju keras, mulutnya tidak bebas bergerak karena ditali, apalagi matanya yang hanya boleh melihat ke arah depan saja, tidak boleh menengok kanan kiri. Tapi, masa bodohlah, mungkin memang sudah nasib kuda ditakdirkan oleh tuhan untuk dimanfaatkan, seperti sapi dan kerbau yang dipekerjakan untuk membajak sawah.

\”Man, tidak ngangkut?” tanyaku iseng yang sedang asyik santai berteduh di depan bakso jenggot kepada tukang becak, sambil menyaksikan banyak pekerja yang sedang kepanasan.

\”Ah, lagi sepi” jawabnya dengan bahasa Indonesia khas Bumiayu yang medok, sambil mengipas-ngipaskan topinya yang kelihatan dari luar penuh dengan daki.

Sepintas aku terasa seperti orang besar saja, pakaianku bersih, rapi, sandalku juga lumayan dan sedang duduk santai, tenang, badan bersih dan tidak berkeringat. Tapi sesekali aku mengkerutkan kening karena silau melihat jalan raya yang mencilak, karena  terkena pantulan sinar matahari yang sudah menunjukkan waktu Dzuhur.

\”Beginilah Mas, setiap hari kadang-kadang cuma dapat sepuluh ribu, kadang-kadanglimabelas ribu. Kalau lagi rame ya lumayan, tapi kalau sepi ya kaya gini…” cletuk tukang becak itu tiba-tiba dengan bahasa Bumiayunya yang medok. Aku tidak tahu kepada siapa dia berkata, banyak orang yang berada disekelilingnya, tapi kelihatannya mereka cuek, mungkin denganku, tapi aku tidak pernah melontarkan pertanyaan atas jawaban itu.

\”Sekarang sudah dapat berapa?” tanyaku nyambung, barangkali dia sedang ngomong denganku.

\”Baru dapat tiga, empatanlah” jawabnya jujur

\”Baru dapat tuju ribu limaratus” tambahnya lagi.

Tukang becak itu berusaha mengimbangiku dengan bahasaIndonesia. Padahal aku juga bisa berbahasa Jawa. Tapi ada yang mengganjal di hatiku ketika aku berbicara kepada orang tua menggunakan bahasa Jawa ngoko, apalagi di desa orang. Aku tidak bisa berbahasa Jawa halus, padahal aku asli orang jawa.

Aku terbiasa menggunakan bahasaIndonesia. Dengan siapa saja. Kepada temanku di desa saja _ketika aku sedang berada di rumah_ kadang-kadang secara spontan bahasa yang keluar dari mulutku adalah bahasa Indonesia, padahal temanku bercakap menggunakan bahasa Jawa logat Tegal, yang sama-sama medok seperti di Bumiayu ini. Termasuk kepada nenek-nenek, aku pernah keceplosan. Mana mungkin nenek-nenek di desaku mengerti maksudku! Tapi rupanya dia tahu. Aku tidak tahu, entah hanya kebetulan atau memang benar-benar tahu.

Mungkin karena aku sudah terbiasa berkumpul dengan guru-guru di sekolah, selalu berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia kepada siswa dan kepada siapa saja yang ada di sekolah, walaupun siswa-siswa yang sekolah di Madrasah juga banyak yang berasal dari Jawa.

\”Mungkin sudah jadi takdir saya, ya Mas?” Tanyanya, tapi hanya aku balas dengan cengiran.

Sebenarnya aku tahu apa yang harus aku katakan, tapi aku tidak mau mengatakannya, situasinya tidak mendukung, panas, kotor, lagi pula aku tidak mau mendikte orang tua, aku tidak mau menyalahkannya. Mulutku terkunci ketika mendengar pernyataan dari tukang becak itu.

\”Nanti malam kita ngirim kemana?” tanya Cheru kepada pak Anwar, yang usianya sudah dua kali lipat lebih tua dari Cheru ketika menyeberangi jalan raya menuju ke arahku. Walaupun dua kalilipat lebih tua, tapi semangat pak Anwar kelihatan masih prima, tidak kalah dengan sopir lain yang umurnya lebih muda.

\”Ke Kuningan” jawabnya singkat

\”Mas, dua!” acung dua jarinya membentuk huruf V memesan dua mangkuk bakso.

\”Minumnya?” sela pelayan bakso.

\”Teh manis, dua!”

Pak Anwar mencopot topi bundernya dan mengipas-ngipaskan handuk yang biasa dikalungkan di lehernya. Sesekali mengusap muka dan lehernya yang selalu bercucuran keringat.

\”Man, tidak ngangkut?” pertanyaanku dipakai tukang becak untuk bertanya kepada pak Anwar. Sedikitpun tidak ada yang terkurangi kata-katanya, termasuk intonasi yang hampir sama.

\”Ngangkut…” jawabnya enteng. Nada suaranya bersahabat, kedengaran akrab di telinga, seperti orang muda.

\”Ini Man” sahut pelayan dari belakang menyuguhkan dua mangkuk bakso dan dua gelas teh manis pesanannya.

Pak Anwar dan Cheru masuk ke warung kemudian memakan dengan lahap bakso pesanannya, dan aku, aku masih duduk-duduk santai di bangku panjang depan Bakso Jenggot. Tukang becakpun masih duduk di becaknya sambil mengipas-ngipaskan topinya menunggu penumpang.

Selang beberapa menit, pak Anwar dan temannya keluar dari warung jenggot. Aku geser sedikit karena aku tahu pak Anwar pasti duduk di kursi panjang yang sedang aku duduki. Terlihat dari pandangan matanya yang menyiratkan aku untuk geser. Pak Anwar duduk sambil mengipas-ngipaskan kembali handuk kecil yang biasa disampirkan di lehernya, topi bundernya di lepas, dia masih kepanasan, apalagi habis makan bakso jenggot dan teh manis.

\”Gimana, Man” tanya pak Anwar kepada tukang becak sekedar iseng sambil mengusapkan handuk kecilnya ke muka, lalu ke leher yang terus mengeluarkan berkeringat.

\”Ya…, baik-baik saja” jawabnya enteng dengan bahasa Indonesia medok khas Bumiayu, dengan nada orang muda.

\”Man, Jenengan tidak istirahat saja” tukang bejak itu bersaran karena melihat muka pak Anwar yang sudah tua, kumisnya yang belum dicukur tampak campur antara warna hitam dan putih, tapi warna putih lebih dominan dari pada hitamnya, matanya juga sudah tidak bening lagi, agak coklat, rambutnya putih campur hitam awut-awutan, badannya yang dulu segar dan kekar kini sudah kelihatan kriput dan menyusut, kulit muka, leher dan tangannya sudah kelihatan keriput dan tipis.

\”Pekerjaan kalau dikerjakan dengan senang ya, akan terasa ringan. Lihat saja pemuda-pemuda yang bermalas-malasan, itu karena mereka tidak mau susah, menganggap pekerjaan itu berat dan beban, jadi ya seperti itu.” Jawabnya mendikte dengan bahasa Indonesia yang medok.

\”Saya yang biasa susah ya, saya anggap biasa, wong memang ini pekerjaan saya. Kalau kepengin kerja enak ya dulu saya harus sekolah. Wong saya tidak pernah sekolah!” tambahnya.

\”Sebaiknya kanJenengan istirahat,kan punya anak, anaknyakan sudah besar?” tanya tukang becak agak nyindir dengan bahasa Indonesia dialek Bumiayu.

\”Saya kalau pulang nyupir, kalau jam delapan lebih, ya sudah tidak bisa apa-apa, paling habis sholat Isya, saya langsung tidur. Paginya ya memang sudah tidak seperti dulu lagi, tapi setelah minum teh anget ya Alhamdulillah, saya bisa kerja, tidak ada masalah!” tambahnya penuh rasa optimis.

\”Kalau ada apa-apa bagaimana?” tanya tukang bejak lebih lanjut.

\”Mati…!” katanya menggeretak. \”Mati tah, tidak ada yang tahu. Sekarang saja saya bisa mati, kalau sudah ajalnya”.

Aku hanya bisa mendengarkan orang tua yang duduk di sekelilingku ngobrol. Begitu juga dengan Cheru. Tapi tanpa dirasa ternyata aku ikut terbawa dan ikut membayangkan. Aku membayangkan seolah-olah berperan sebagai pak Anwar yang dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Sebentar lagi Aku akan mati, kematian semakin mendekatiku. Aku mengingat semua dosa yang pernah aku lakukan, ketika itu pula aku bertekad akan memenuhi hak Adam yang masih terpaut denganku. Aku akan berbuat baik kepada semua orang dan akan bersusaha beribadah sekuat tenaga.

\”Jangan-jangan kamu duluan yang mati atau anak muda ini” ucap pak Anwar  sambil menghadapkan mata tuanya ke pandanganku.

Spontan aku gugup. Orang tua yang duduk di sampingku menunjuk ke arahku dengan pandangan yang penuh nasihat, aku semakin takut, gemeteran. Aku belum sempat banyak berbuat baik. Aku belum sempat mengembalikan hak Adam yang masih aku tanggung.

\”Bahkan, mungkin anak kecil itu”, sambil menghadapkan pandangannya ke anak kecil yang sedang dipangku oleh ibunya.

\”Tidak ada yang tau kapan kematian itu akan tiba!”

\”Yang penting saya berusaha baik, berusaha tidak ada tanggungan sesama anak Adam. Karena kalau sampai meninggalkan tanggungan, kita mau bayar pakai apa, wong kita sudah mati” katanya.

\”Mending kalau keluarga kita tahu, anak-anaknya tahu kalau ayahnya masih punya tanggungan kepada orang lain” jelasnya lebih lanjut.

\”Kalau anaknya tahu juga mending kalau mereka mau menyelesaikan urusan bapaknya, kalau tidak tahu, bagaimana?”

\”Aku berjanji akan melunasi semua hutang bapakku, nanti kalau sudah meninggal” ucapku membatin mendengar omongan orang tua yang duduk di sampingku.

\”Atau, kalau anak saya yang mati duluan bagaimana? Saya tidak tahu apakah anak saya masih punya tanggungan dengan orang lain! Orang mati ya menjadi tanggungan orang yang masih hidup!” sambung orang tua itu.

Aku semakin takut, jangan-jangan nasibku sama seperti yang dikatakan orang tua itu? Aku mati dulu sebelum ayahku. Tekadku semakin bulat untuk bertaubat, untuk tidak melakukan kesalahan lagi dan tampaknya tukang becak itu juga jadi mengerti setelah mendengarkan ceramah pak Anwar. Tapi tidak tahu apakah tekad ini akan pudar sebelum aku mati….

Comments are closed.