Archive for cerpen

silakhudin

Takdir…?

Udara panas masih menyergap kotaBumiayu. Waktu itu orang menyebutnya Istiwa. Matahari sudah berada tepat di atas kepala. Tiang listrik dan plang Bakso Jenggot yang ada di sebelah kanan jalan pun terpaksa menyembunyikan bayangannya, yang kelihatan hanyalah titik kecil dan garis kecil hitam menerawang. Begitu juga dengan mobil truk pak Anwar yang sedang diparkir di depan toko Mulia Jaya setelah mengangkut 10 ton beras ke kota Tegal. Continue Reading »

silakhudin

Salahkah…?

Malam sabtu itu tidak seperti malam Sabtu yang pernah Harjito lewati. Hujan deras membuatnya terkurung di ruang kerja. Petir menjilat-jilat langit di sela-sela gumpalan awan hitam yang padat menggumpal. Sesekali tampak cahaya berkilatan seperti cahaya kamera di horizon sebelah Barat. Harjito tidak bisa mengelak untuk tidak meninggalkan ruang kerjanya. Keadaanlah yang tidak memungkinkan. Dia hanya bisa meraba istri dan kedua anak perempuannya yang masih kecil dari kejauhan, melalui kaca jendela ruang kerja yang terkena sedikit kucuran air hujan dari luar. Continue Reading »

silakhudin

Potret Ibu

Setiap hari hanya bisa Aku lewati bangunan-bangunan tua yang terpampang melalui kaca jendela angkutan desa, setelah menyaksikan persawahan yang sekarang sedang tidak enak dipandang, tanahnya yang retak-retak, jerami-jerami kering yang menumpuk dan sudah memutih. Begitu juga dengan gundukan-gundukan jerami hitam yang masih mengeluarkan asap. Semuanya hanya bisa Aku saksikan melalui kaca jendela angkutan desa yang sedikit terbuka. Continue Reading »

silakhudin

Nasihat

\”Assalamu\’alaikum!” sapa Kyai Hanif setelah turun dari sepeda tuanya.

\”Wa\’alaikum salam!” Continue Reading »

silakhudin

I n d o n e s i a k u

Setiap hari hanya bisa Aku lewati bangunan-bangunan tua yang terpampang melalui jendela angkutan desa warna kuning dan biru di atasnya, setelah menyaksikan persawahan yang sekarang sedang tidak enak dipandang, tanahnya yang retak-retak, jerami-jerami kering menumpuk yang sudah memutih dan gundukan-gundukan jerami hitam yang masih mengeluarkan asap. Itupun hanya bisa Aku lihat dari kaca jendela angkut yang sedikit terbuka untuk pergantian udara, agar tidak terlalu panas. Continue Reading »

silakhudin

Ibu, cepatlah pulang…

Adzan Dzuhur sudah berkumandang lebih dari satu setengah jam. Panas terik matahari membuat semua orang enggan melakukan aktifitas, kecuali di halaman depan rumahku. Dua pohon kelapa yang bersebelahan menghalangi langsung masuknya sinar matahari ke halaman. Begitu juga dengan beberapa pohon mangga dan satu pohon mangga yang tegak, rimbun dan teduh, ditambah satu pohon jeruk yang bercabang melebar. Bentuknya sama seperti pohon mangga yang rimbun, hanya saja lebih kecil. Continue Reading »

silakhudin

Emansipasi?

Bayanganku masih memanjang dua kali lipat ke arah Barat. Satu jam lebih saya menunggu bis Kurnia jurusan Tegal-Purwokerto. Matahari menarik bayanganku menjadi sepadan dengan tinggi badanku. Sesekali terlihat, sesekali tidak, karena posisiku yang tidak tenang dan terhalang pohon Mahoni besar yang sudah ratusan tahun berdiri mengangkang disamping jalan sebelah kananku. Continue Reading »

silakhudin

APAKAH INI DENDAM?

Maman sedang menunggu pak Usman, penjual bubur ayam yang setiap pagi lewat di jalan samping rumah. Sambil menunggu biasanya Maman bermain Skiping atau Bulu tangkis, untuk sekedar melemaskan otot-ototnya yang kaku setelah beberapa jam tidur malam. Begitu juga dengan adik perempuannya yang sudah kelas tiga SMA, Rina, yang sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional, yang standar nilainya tidak lagi empat koma sekian, tahun ini naik menjadi lima koma sekian. Continue Reading »

silakhudin

Amarah !

Aku hanya bisa mengungkapkan isi hati yang sudah lama ini mendongkol dan mengganjal di hati dan menghalangi langkah dan gerakku, ketika Drs. Faisal kembali mengulangi kebiasaannya yang tidak senonoh dan tidak pantas dilakukan oleh seorang Drs. Continue Reading »

silakhudin

Akibat Ketidakhadirannya…!

Pak Broto sudah tidak cocok melihat tingkah Aldi yang semakin tidak sopan kepada bapaknya. Berangkat sekolah pun dia sudah tidak lagi menyapa kepada ibu dan bapaknya, langsung nylonong saja. Penampilannya sudah jauh berbeda dengan Aldi yang dulu. Rambutnya dimodel seperti remaja pada umumnya, berdiri, bajunya tidak dimasukkan dan dari beberapa jarinya terlihat kuku panjang bercat hitam. Continue Reading »